Krisis Demografi, Rusia Kini Andalkan Tenaga Kerja dari Asia

AKURAT.CO Rusia kini menghadapi krisis tenaga kerja terburuk dalam beberapa dekade. Dampak jangka panjang penurunan angka kelahiran, ditambah perang di Ukraina, memaksa Moskow mengubah peta perekrutan tenaga kerja asing dengan membidik negara-negara padat penduduk di Asia Selatan.
Mengutip dari laman reuters, pemerintah Rusia memperkirakan ekonomi nasional membutuhkan tambahan sekitar 11 juta pekerja hingga akhir dekade ini untuk menjaga pertumbuhan.
Dengan tingkat pengangguran hanya sekitar 2% salah satu yang terendah di dunia pasokan tenaga kerja domestik nyaris tak mampu menutup kebutuhan industri.
Selama bertahun-tahun, Rusia mengandalkan migran dari Asia Tengah. Namun, data terbaru Kementerian Urusan Internal Rusia menunjukkan pergeseran signifikan.
Izin kerja bagi warga India melonjak dari sekitar 5.000 pada 2021 menjadi lebih dari 56.000 pada 2025. Total izin kerja untuk warga asing mencapai lebih dari 240.000, tertinggi sejak 2017.
Baca Juga: MBG Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja, Bappenas: Kunci Pembangunan Nasional
Negara-negara seperti India, Bangladesh, Sri Lanka, hingga China kini menjadi sumber tenaga kerja baru. Para pekerja ini mengisi berbagai sektor perkotaan, mulai dari konstruksi, pembersihan salju, hingga layanan restoran.
“Kami melihat pergeseran tektonik di pasar tenaga kerja Rusia,” ujar Direktur Operasional agen perekrutan Intrud, Elena Velyaeva. Perusahaannya kini aktif merekrut pekerja dari Sri Lanka dan Myanmar untuk memenuhi permintaan industri Rusia.
Isu ketenagakerjaan ini bahkan menjadi agenda diplomatik. Dalam kunjungan Presiden Vladimir Putin ke New Delhi pada Desember lalu, Rusia dan India menandatangani kesepakatan untuk menyederhanakan prosedur migrasi tenaga kerja sementara.
Krisis semakin dalam setelah perang di Ukraina menarik ratusan ribu pekerja ke sektor militer. Selain itu, sekitar 500.000 hingga 800.000 warga usia produktif diperkirakan meninggalkan Rusia sejak 2022, baik untuk menghindari mobilisasi maupun karena alasan politik.
Baca Juga: Kampung Nelayan Merah Putih Serap 17.550 Tenaga Kerja
Demografer independen Igor Efremov menilai situasi ini bukan bersifat sementara.
“Populasi Rusia akan terus menua. Ini adalah norma jangka panjang yang harus dihadapi perekonomian selama beberapa dekade,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 7Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 8Moto3 GP Malaysia: Hiroshi Aoyama Puji Kecerdikan Veda Ega Pratama Taklukkan Suhu Lintasan Sepang
- 9Harga Cabai Berangsur Turun Awal November
- 10Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia








