Akurat

Ekonomi RI Tumbuh 5,12 Persen di 2025 Saat Global Melambat, Airlangga: Konsumsi Jadi Penopang

Esha Tri Wahyuni | 13 Februari 2026, 17:10 WIB
Ekonomi RI Tumbuh 5,12 Persen di 2025 Saat Global Melambat, Airlangga: Konsumsi Jadi Penopang

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menunjukkan daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global 2025–2026 yang diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 3%. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan, ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan 5,11% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal IV. 
 
Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa terbaik di antara anggota G20, sekaligus memperkuat optimisme target pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4%–5,6%.
 
Di tengah proyeksi lembaga internasional seperti IMF, World Bank, dan OECD yang memperkirakan pertumbuhan global stagnan di kisaran 2,9%–3,1%, Indonesia justru mencatatkan akselerasi.
 
 
“Di tengah berbagai tantangan, pertumbuhan ekonomi global stagnant di 3 persen. Baik IMF, World Bank maupun OECD memproyeksikan 2025 dan 2026 juga sedikit menurun di kisaran 2,9 sampai 3,1 persen. Namun Indonesia di antara negara G20 di kuartal keempat adalah nomor dua sesudah India,” ujar Airlangga dalam forum Indonesia Ekonomic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Konsumsi Rumah Tangga dan Momentum Nataru Jadi Penopang

Pertumbuhan ekonomi 5,11% pada kuartal IV ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,98%. Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendorong mobilitas masyarakat dan aktivitas belanja.
 
Menurut Airlangga, stimulus ekonomi yang tepat sasaran serta stabilitas harga turut menjaga daya beli masyarakat. Pola back-to-back HBKN pada kuartal IV dan kuartal I menjadi faktor pendorong tambahan.
 
“Ini mencerminkan stimulus ekonomi yang tepat sasaran, stabilitas harga, serta peningkatan mobilitas akibat Nataru. Untuk pertama kalinya Q4 dan Q1 back to back ada Hari Besar Keagamaan,” katanya.

Investasi dan Belanja Pemerintah Menguat

Dari sisi pembentukan modal tetap bruto (PMTB), investasi tumbuh 5,09% pada kuartal IV. Sementara itu, belanja modal pemerintah melonjak signifikan hingga 44,2%, mencerminkan percepatan realisasi proyek strategis dan belanja produktif.
 
Secara keseluruhan, belanja pemerintah tumbuh 4,55% pada periode yang sama. Kombinasi investasi swasta dan belanja fiskal menjadi bantalan penting di tengah ketidakpastian global.

Ekspor dan Pariwisata Kembali Ekspansif

Kinerja ekspor juga mencatat pertumbuhan 7,03%, didorong peningkatan volume dan nilai ekspor komoditas serta pemulihan sektor pariwisata. Sepanjang 2025, perjalanan wisatawan Nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan atau tumbuh 17,55% dibanding tahun sebelumnya.
 
Pemulihan mobilitas domestik dan aktivitas sektor jasa turut mengerek pertumbuhan transportasi dan akomodasi yang melampaui 7%.

Sektor Industri dan Pertanian Tumbuh Stabil

Secara sektoral, industri pengolahan tumbuh 5,3%, sektor pertanian 5,03%, serta transportasi dan akomodasi mencatat pertumbuhan di atas 7%. Struktur pertumbuhan ini menunjukkan kombinasi antara sektor tradisional dan sektor jasa yang sama-sama bergerak positif.
 
Airlangga menilai, penguatan sektor riil menjadi fondasi menuju transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.

Indikator Sosial Membaik, Pengangguran Turun

Tak hanya dari sisi makro, indikator sosial juga menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, rasio gini membaik ke level 0,36, dan tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,74%. Sepanjang periode tersebut, tercatat tambahan tenaga kerja sebanyak 2,71 juta orang.
 
“Momentum ini sesuai dengan tema rencana kerja pemerintah yaitu kedaulatan pangan, energi, dan transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju,” tegasnya.

Target Pertumbuhan 2026 Tembus 5,6 Persen

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,4% hingga 5,6%. Sektor prioritas meliputi pertanian, manufaktur, ekonomi digital, dan energi.
 
Dengan fondasi konsumsi domestik yang kuat, ekspor yang pulih, serta belanja pemerintah yang tetap ekspansif, prospek ekonomi Indonesia dinilai masih atraktif di mata investor global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.