Ekonomi RI Tembus 5,39 Persen di Kuartal IV-2025, Purbaya: Kuartal I-2026 Bisa 6 Persen
Esha Tri Wahyuni | 13 Februari 2026, 17:17 WIB

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 menunjukkan tren perbaikan yang konsisten sepanjang tahun. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) membaik dari 4,87% pada kuartal I menjadi 5,39% pada kuartal IV 2025.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kinerja tersebut didorong oleh inflasi yang terkendali, surplus perdagangan yang berlanjut, serta stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global.
Pemerintah pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berpotensi menembus 5,5% hingga 6%, seiring disiplin fiskal yang tetap dijaga di bawah batas defisit 3% PDB.
Purbaya menyebut perbaikan ekonomi terjadi secara bertahap sepanjang tahun. Hal ini terlihat dari akselerasi PDB yang meningkat konsisten hingga akhir 2025. “Ekonomi full year 2025 menunjukkan perbaikan kuartal demi kuartal. Dari 4,87 persen di kuartal pertama hingga 5,39 persen di kuartal terakhir,” ujarnya dalam forum Indonesia Ekonomic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Pemerintah menilai tren tersebut menjadi sinyal pemulihan yang semakin solid. Momentum pertumbuhan dinilai semakin kuat, terutama karena stabilitas harga yang terjaga dan sektor eksternal yang menopang ekspor.
Inflasi Rendah, Daya Beli dan Lapangan Kerja Membaik
Selain pertumbuhan yang menguat, inflasi 2025 tetap berada pada level rendah. Kondisi ini menjaga daya beli masyarakat dan mendukung konsumsi domestik sebagai motor utama ekonomi.
Stabilitas harga juga berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Pemerintah mencatat adanya perbaikan tingkat pengangguran serta penurunan angka kemiskinan seiring pemulihan aktivitas ekonomi.
Kombinasi pertumbuhan PDB dan inflasi terkendali menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan ekspansi ekonomi di tahun berikutnya.
Surplus Perdagangan 68 Bulan Beruntun, Tembus USD41 Miliar
Dari sisi eksternal, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 68 bulan berturut-turut. Sepanjang 2025, nilai surplus mencapai USD41 miliar atau tumbuh 31% dibandingkan tahun sebelumnya. “Surplus ini menunjukkan kita masih memiliki daya saing di pasar global, meskipun ekonomi dunia menghadapi ketidakpastian,” kata Purbaya.
Kinerja ekspor yang tetap kuat di tengah perlambatan global dinilai menjadi bantalan penting bagi stabilitas neraca transaksi berjalan dan nilai tukar rupiah.
Rupiah Stabil dan Arus Modal Asing Tetap Masuk
Stabilitas nilai tukar rupiah dijaga melalui koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter. Meski pasar keuangan global sempat mengalami volatilitas, arus modal asing di pasar portofolio tetap mencatatkan net inflow pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Kondisi tersebut memperkuat persepsi positif investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Stabilitas makroekonomi menjadi faktor kunci menjaga kepercayaan pasar.
Defisit Dijaga di Bawah 3 Persen PDB, Fiskal Tetap Ekspansif
Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah menegaskan komitmen menjaga disiplin anggaran. Defisit tetap dikendalikan di bawah 3% terhadap PDB, meskipun kebijakan fiskal dijalankan secara ekspansif untuk menjaga momentum pertumbuhan. “Defisit kita jaga di bawah tiga persen dari PDB. Fiskal tetap hati-hati, tetapi cukup ekspansif untuk menjaga pertumbuhan,” ujarnya.
Strategi ini mencerminkan keseimbangan antara kehati-hatian fiskal dan kebutuhan mendorong ekspansi ekonomi.
Target Pertumbuhan Ekonomi 2026: 5,5–6 Persen
Dengan fundamental yang dinilai semakin solid, mulai dari pertumbuhan PDB yang menguat, inflasi terkendali, surplus perdagangan berkelanjutan, hingga stabilitas fiskal membuat pemerintah optimistis ekonomi Indonesia 2026 dapat tumbuh di kisaran 5,5% hingga 6% pada kuartal I-2026, lebih tinggi dari proyeksi pemerintah 5,6%.
"Prediksi kami di kuartal pertama, di kuartal pertama ekonomi kita bisa tumbuh antara 5,5 sampai dengan 6 persen," tuka Purbaya.
Prospek tersebut menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha, investor, serta generasi muda produktif yang menantikan peluang kerja dan ekspansi bisnis yang lebih luas. Jika tren konsistensi ini terjaga, 2026 berpotensi menjadi fase akselerasi baru bagi ekonomi Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







