Neraca Pembayaran Kuartal IV-2025 Surplus USD6,1 Miliar
Esha Tri Wahyuni | 20 Februari 2026, 16:22 WIB

AKURAT.CO Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV-2025 mencatat surplus USD6,1 miliar. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dalam laporan resmi, Bank Indonesia (BI) menyebut surplus tersebut ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang tetap rendah serta surplus transaksi modal dan finansial yang kembali mencatatkan perbaikan signifikan.
Kinerja NPI 2025 ini sekaligus memperkuat persepsi pasar terhadap ketahanan eksternal Indonesia, terutama di tengah volatilitas pasar keuangan global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika arus modal asing.
Data ini menjadi perhatian pelaku pasar, investor, hingga generasi muda yang mulai aktif memantau indikator makroekonomi sebagai acuan investasi dan pengelolaan keuangan.
Surplus NPI Kuartal IV-2025: Apa Saja Penopangnya?
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa perbaikan NPI pada kuartal IV-2025 mendukung stabilitas eksternal Indonesia.
“Kinerja NPI pada kuartal IV-2025 membaik sehingga mendukung ketahanan eksternal,” ujar Ramdan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Pada periode ini, transaksi berjalan mencatat defisit USD2,5 miliar atau 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut berbalik dibanding kuartal III-2025 yang sebelumnya mencatat surplus USD4,0 miliar atau 1,1% dari PDB. Meski terjadi pergeseran, defisit tersebut tetap berada dalam level yang terkendali.
Neraca Perdagangan Nonmigas Masih Surplus
Surplus neraca perdagangan nonmigas tetap terjaga, meskipun nilainya lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi perlambatan ekonomi global serta kontraksi harga komoditas yang masih berlangsung.
Di sisi lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit yang lebih tinggi. Kondisi ini dipicu peningkatan aktivitas ekonomi domestik yang mendorong kebutuhan impor energi.
Defisit neraca jasa juga meningkat. Faktor utamanya adalah penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal IV-2025 dibandingkan kuartal sebelumnya.
Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer naik seiring kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun. Namun ada kabar baik dari sisi pendapatan sekunder. Surplus neraca pendapatan sekunder meningkat berkat kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Transaksi Modal dan Finansial Berbalik Surplus
Salah satu pendorong utama surplus NPI adalah transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus 8,3 miliar dolar AS pada kuartal IV-2025. Pada triwulan sebelumnya, pos ini justru mencatat defisit USD8,0 miliar.
Ramdan menjelaskan bahwa investasi langsung tetap mencatat surplus. “Investasi langsung tetap mencatatkan surplus sebagai cerminan dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi Indonesia,” ujarnya.
Investasi portofolio juga mencatat surplus. Hal ini didorong meningkatnya aliran masuk modal asing, seiring imbal hasil investasi domestik yang dinilai tetap menarik. Selain itu, investasi lainnya turut mencatat surplus, dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri.
Kinerja NPI Sepanjang 2025 Lebih Terkendali
Secara keseluruhan tahun 2025, BI menilai ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap solid.
Transaksi berjalan sepanjang 2025 mencatat defisit hanya USD1,5 miliar atau 0,1% dari PDB. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan defisit 2024 yang mencapai USD8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
Perbaikan tersebut dipengaruhi peningkatan surplus neraca perdagangan barang, terutama dari kinerja ekspor produk manufaktur yang membaik. Surplus neraca pendapatan sekunder juga meningkat berkat lonjakan remitansi PMI.
Namun demikian, defisit neraca jasa meningkat akibat kenaikan defisit jasa telekomunikasi seiring pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi. Defisit neraca pendapatan primer juga naik karena peningkatan pembayaran dividen.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial sepanjang 2025 mencatat defisit USD4,2 miliar. Kondisi ini dipicu keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya, seiring tingginya ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang tahun.
Cadangan Devisa Naik, BI Optimistis 2026 Tetap Stabil
Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat dari USD155,7 miliar pada akhir Desember 2024 menjadi USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025.
Cadangan tersebut setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level ini jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, BI memprakirakan kinerja NPI pada 2026 tetap baik. Defisit transaksi berjalan diproyeksikan tetap rendah dalam kisaran 0,9% hingga 0,1% dari PDB.
“Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal,” kata Ramdan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









