Bos BI Beberkan Strategi Suku Bunga Acuan di 2026-2027
Yosi Winosa | 28 Januari 2026, 21:02 WIB

AKURAT.CO Ekonomi Indonesia diproyeksikan memasuki fase pemulihan yang lebih solid pada periode 2026 hingga 2027. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, ditopang stabilitas inflasi, ekspansi kredit, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran.
Optimisme ini disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 di Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Dalam konteks ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, BI menilai fundamental ekonomi domestik tetap kuat. Proyeksi pertumbuhan, inflasi yang terjaga, serta kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan.
Bagi pelaku usaha, investor, hingga generasi muda, arah kebijakan BI ini menjadi sinyal penting dalam membaca prospek ekonomi Indonesia ke depan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026–2027
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, bahwa setelah melewati 2025 dengan kinerja yang relatif baik, ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih kuat dalam dua tahun berikutnya.
“Setelah melewati 2025 dengan kinerja yang baik, yakinlah Insya-Allah tahun 2026 dan 2027 Indonesia, ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi,” ujar Perry.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7% dengan titik tengah 5,3%. Sementara pada 2027, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 5,1–5,9% dengan titik tengah 5,5%.
Angka ini menunjukkan tren akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional, seiring penguatan permintaan domestik dan dukungan kebijakan yang lebih pro-growth.
Inflasi Tetap Terkendali, Ruang Penurunan Suku Bunga Terbuka
Selain pertumbuhan ekonomi, BI juga memastikan stabilitas harga tetap terjaga. Inflasi pada periode 2026–2027 diperkirakan berada di level 2,5% ±1%, sesuai target bank sentral.
Kondisi inflasi yang rendah ini membuka ruang bagi BI untuk menjaga kebijakan suku bunga yang mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama melalui dorongan ke sektor riil dan pembiayaan produktif.
Kredit Perbankan Dipacu, UMKM Jadi Prioritas
Dari sisi intermediasi keuangan, BI memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan akan terus meningkat. Pada 2026, kredit diproyeksikan tumbuh 8–12%, sedangkan pada 2027 meningkat menjadi 9–13%.
BI juga menegaskan komitmennya untuk melonggarkan kebijakan makroprudensial pada 2026–2027, memberikan insentif likuiditas makroprudensial bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, mendorong penurunan suku bunga kredit agar pembiayaan lebih terjangkau.
Fokus utama diarahkan ke UMKM, ekonomi kreatif, serta sektor-sektor yang mendukung penguatan ekonomi kerakyatan.
Digitalisasi Melaju: Target 17 Miliar Transaksi dan QRIS Global
Di bidang sistem pembayaran, BI menargetkan lonjakan signifikan transaksi digital pada 2026. Bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), BI membidik 17 miliar transaksi digital dan 60 juta pengguna QRIS, dengan 45 juta di antaranya berasal dari UMKM.
Tak hanya di dalam negeri, penggunaan QRIS lintas negara juga diperluas ke delapan negara, yakni Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, China, Korea, India, dan Arab Saudi.
Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pembayaran digital regional dan global.
Sinergi Kebijakan & Dukungan Program Prioritas Pemerintah
Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
“Mari kita bangun optimisme, yakin bahwa 2026–2027 akan lebih baik. Optimisme itulah yang akan membawa ekonomi kita lebih baik,” kata Perry.
BI juga memperkuat sinergi dengan pemerintah, KSSK, perbankan, pelaku pasar keuangan, akademisi, hingga masyarakat. Dukungan diberikan terhadap berbagai program prioritas pemerintah, termasuk Hilirisasi sumber daya alam dan industrialisasi, Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat dan Perumahan Rakyat.
Selain itu, pendalaman pasar keuangan terus didorong, dengan rata-rata transaksi harian pasar uang mencapai lebih dari Rp55 triliun, serta transaksi pasar valas sekitar USD10 miliar per hari.
Ekosistem Digital dan Peran Generasi Milenial
BI juga menaruh perhatian besar pada penguatan ekosistem digital, seiring dominasi generasi milenial yang mencapai 60–79% populasi Indonesia.
Melalui pengembangan infrastruktur seperti BI-FAST dan pembinaan 800 talenta digital muda, BI menyiapkan fondasi ekonomi digital masa depan. “Mereka adalah pemimpin masa depan, masa depan ekonomi kita,” tegas Perry Warjiyo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










