Akurat

Empat Langkah BI Perkuat Ekonomi Lewat Bauran Kebijakan Moneter

Andi Syafriadi | 4 November 2025, 09:10 WIB
Empat Langkah BI Perkuat Ekonomi Lewat Bauran Kebijakan Moneter

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kombinasi penurunan suku bunga acuan dan pelonggaran likuiditas secara besar-besaran.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan empat langkah moneter utama yang ditempuh BI dalam beberapa bulan terakhir.

Langkah pertama adalah penurunan suku kebijakan (BI Rate) sebanyak 150 basis poin sejak September 2024 hingga September 2025. Sepanjang Juli–September 2025, BI menurunkan suku bunga acuan masing-masing 25 basis poin, sehingga kini berada di level 4,75%.

Baca Juga: Bank Indonesia: IWIP dan WBN Dorong Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara

“Kebijakan ini sejalan dengan sasaran inflasi 2025–2026 dan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (3/11/2025).

Penurunan suku bunga BI terbukti menekan imbal hasil SBN dan menurunkan biaya utang pemerintah (yield SPN), memberikan ruang fiskal lebih luas.

Pemerintah dan BI kini mengevaluasi efektivitas transmisi kebijakan suku bunga ke perbankan dan perekonomian.

Langkah kedua, BI memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valas domestik dan internasional menggunakan instrumen spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Instrumen tersebut memastikan likuiditas tetap terjaga dan volatilitas rupiah dapat diredam secara terarah.

Langkah ketiga berupa ekspansi likuiditas moneter dengan menurunkan porsi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Rp210,8 triliun sejak awal 2025.

Baca Juga: Perluas Akses Rupiah ke Seluruh Negeri, Pegadaian Raih Apresiasi dari Bank Indonesia

Kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) juga disesuaikan dengan penetapan suku bunga deposito BI sebesar 3,75% untuk mendorong penyaluran kredit perbankan.

Langkah keempat adalah pembelian Surat Pemerintah Negara (SPN) di pasar sekunder yang totalnya mencapai Rp269,97 triliun sejak Januari hingga 30 Oktober 2025. Dari angka tersebut, sekitar Rp199,9 triliun dilakukan melalui program debt switching bersama pemerintah.

Selain kebijakan moneter, BI juga mengimplementasikan kebijakan makroprudensial untuk mempercepat penyaluran kredit, termasuk diantaranya Insentif likuiditas makroprudensial bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas (pertanian, industri, jasa, properti, UMKM), Loan to Value (LTV) properti yang tetap 100% untuk mendorong permintaan rumah, Rasio pendanaan inklusif makroprudensial minimal 30%.

Di sisi sistem pembayaran, BI memperluas digitalisasi melalui perluasan QRIS antarnegara dengan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan, serta memperluas penggunaan QRIS di transportasi, parkir, dan layanan publik.

BI juga memperkuat kerja sama internasional untuk penggunaan mata uang lokal. Transaksi LCT dengan Tiongkok telah mencapai USD7 miliar, sementara dengan Jepang mencapai USD5 miliar.

“BI akan terus memperkuat bauran kebijakan bersama pemerintah dan KSSK untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Perry.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi