Akurat

IMF Wanti-wanti Proteksionisme Bisa Tekan Ekonomi Asia-Pasifik

Andi Syafriadi | 26 Oktober 2025, 07:10 WIB
IMF Wanti-wanti Proteksionisme Bisa Tekan Ekonomi Asia-Pasifik

AKURAT.CO Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa meningkatnya proteksionisme dan kebijakan tarif di sejumlah negara dapat menekan aktivitas ekspor Asia-Pasifik.

Akibatnya, kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia itu diperkirakan akan menghadapi perlambatan pada 2025 hingga 2026.

Dalam laporan terbarunya mengutip dari laman reuters, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia akan mencapai 4,5% pada 2025, turun dari 4,6% pada 2024, dan kembali melambat menjadi 4,1% pada 2026.

“Ketidakpastian kebijakan perdagangan memang menurun dibanding April lalu, tetapi masih cukup tinggi dan dapat menekan investasi serta sentimen pasar lebih dari yang diperkirakan,” tulis IMF dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Menkeu Purbaya: Jangan Percaya IMF, Mereka Enggak Pintar-pintar Amat

Lembaga keuangan global tersebut menilai, kenaikan tarif di sejumlah sektor strategis serta kebijakan proteksionis yang diambil oleh negara-negara besar berpotensi menekan permintaan ekspor Asia.

Kondisi tersebut diperburuk oleh melemahnya permintaan dari China, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan kawasan.

IMF mendorong pemerintah di Asia untuk memperkuat permintaan domestik, khususnya melalui konsumsi rumah tangga dan investasi sektor jasa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Daftar Negara Terkaya di Dunia 2025 Versi IMF, Indonesia Tetanggaan dengan Salah Satunya

Selain itu, IMF juga menyerukan stimulus fiskal dan moneter yang terarah guna meredam dampak guncangan perdagangan, serta reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang.

“Asia telah menjadi kontributor utama pertumbuhan global. Namun tanpa kebijakan yang kuat untuk menyeimbangkan kembali ekonomi, risiko perlambatan akan meningkat,” tulis IMF.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.