Akurat

BI Jelaskan Alasan Cadangan Devisa Turun Meski DHE SDA Efektif

Hefriday | 23 Oktober 2025, 07:30 WIB
BI Jelaskan Alasan Cadangan Devisa Turun Meski DHE SDA Efektif

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai penerapan kebijakan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) sebesar 100% telah memberikan dampak positif terhadap pasokan dolar di pasar valuta asing (valas) domestik.

Namun, kebijakan tersebut belum secara otomatis meningkatkan cadangan devisa nasional. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menjelaskan bahwa tambahan pasokan dolar dari ekspor memang memperkuat likuiditas pasar valas dalam negeri, tetapi tidak langsung tercermin dalam peningkatan cadangan devisa bank sentral.

“Penambahan valas itu tidak langsung serta-merta akan meningkatkan cadangan devisa kita. Kenapa? Karena valas itu justru dipakai untuk menambah suplai valas di pasar valas domestik,” kata Destry di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Baca Juga: Beda Data Dana Simpanan Pemda, Ini Penjelasan BI

Destry menuturkan, sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025, tingkat kepatuhan eksportir terhadap ketentuan penempatan DHE SDA di rekening khusus (reksus) di dalam negeri mencapai 95%.

Angka ini menunjukkan tingkat disiplin eksportir yang sangat tinggi terhadap kebijakan pemerintah.

Dari total dana yang ditempatkan di reksus, sekitar 78,2% digunakan eksportir untuk mengonversi valuta asing ke rupiah. Proses konversi tersebut dinilai menjadi faktor utama yang memperkuat pasokan dolar di pasar domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Tapi intinya, untuk PP DHE, saya rasa sejauh ini eksportir sudah menjalankan sesuai yang diamanahkan,” ujar Destry menegaskan.

Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat mengalami penurunan. Pada September 2025, cadangan devisa berada di level USD148,7 miliar, turun sekitar USD2 miliar dari posisi USD150,7 miliar pada Agustus 2025.

Baca Juga: Alasan BI Rate Ditahan di 4,75 Persen

Kendati menurun, BI memastikan posisi cadangan devisa tersebut tetap aman dan memadai, karena setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka itu jauh di atas standar kecukupan internasional yang hanya sekitar tiga bulan impor. Destry mengungkapkan, tekanan terhadap cadangan devisa dalam dua bulan terakhir terjadi akibat arus keluar modal (capital outflow) yang cukup besar.

Selain itu, terdapat faktor lain seperti pembayaran dividen, repatriasi keuntungan investor asing, serta pelunasan pinjaman luar negeri, yang turut menggerus cadangan devisa.

Sementara itu, Gubernur BI, Perry Warjiyo menambahkan bahwa konversi valas ke rupiah oleh para eksportir berperan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Dirinya menilai kebijakan penguatan DHE SDA berhasil menambah pasokan dolar dan mengurangi tekanan terhadap mata uang nasional.

Perry menyebutkan, rupiah sempat melemah 1,05% secara point-to-point (ptp) pada September 2025 dibandingkan posisi akhir Agustus, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Namun, langkah stabilisasi yang ditempuh BI berhasil mengembalikan penguatan nilai tukar pada Oktober 2025.

Untuk menjaga stabilitas pasar, BI melakukan intervensi ganda melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), baik di pasar on-shore maupun off-shore, serta membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Respons kebijakan tersebut memberikan hasil positif, terlihat dari pergerakan rupiah yang kembali stabil dan menguat pada Oktober,” kata Perry.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi