Akurat

Inflasi Rendah Belum Tentu Ekonomi Sehat, Ini Penjelasannya

Ratu Tiara | 17 Oktober 2025, 14:24 WIB
Inflasi Rendah Belum Tentu Ekonomi Sehat, Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Meski inflasi rendah sering dikaitkan dengan kestabilan ekonomi, kenyataannya tidak selalu demikian. Angka inflasi yang tampak terkendali bisa menutupi masalah mendasar seperti turunnya permintaan, lemahnya investasi, hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi. 

Baca Juga: Pasar AS Menguat, Risiko Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed

Apa Itu Inflasi dan Mengapa Penting?

Inflasi adalah kondisi meningkatnya harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan dalam periode tertentu. Kenaikan ini meluas ke berbagai sektor sehingga memengaruhi harga kebutuhan di pasar. 

Tingkat inflasi diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) dan mencerminkan perubahan daya beli masyarakat. Karena berdampak langsung pada biaya hidup dan stabilitas ekonomi, pengelolaan inflasi yang tepat penting untuk menjaga kesejahteraan. 

Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.467 Imbas Rendahnya Inflasi Produsen AS

Faktor yang Membuat Inflasi Rendah Menyesatkan 

1. Lemahnya permintaan pasar domestik 

Inflasi rendah bisa menandakan turunnya permintaan barang dan jasa. Produsen menurunkan harga agar tetap laku yang menunjukkan daya beli masyarakat melemah dan konsumsi menurun.

2. Kebijakan dan pengendalian harga pangan 

Kebijakan pemerintah atau bank sentral menahan kenaikan harga, terutama pangan, dapat menekan inflasi. Namun, hal ini kadang menutupi perlambatan ekonomi di sektor lain.

3. Perlambatan ekonomi dan konsumsi 

Inflasi rendah juga bisa mencerminkan melambatnya aktivitas ekonomi. Permintaan yang lemah membuat pelaku usaha menunda produksi dan ekspansi, menekan pertumbuhan secara keseluruhan.

4. Penurunan harga komoditas 

Turunnya harga pokok memang bisa menekan inflasi, tetapi bila disertai melemahnya daya beli dan kepercayaan konsumen justru dapat menghambat kestabilan ekonomi. 

Dampak Inflasi Terlalu Rendah terhadap Ekonomi 

1. Lemahnya permintaan konsumsi 

Inflasi rendah sering menunjukkan daya beli masyarakat menurun. Konsumen cenderung menunda belanja karena harga stabil atau turun yang membuat produksi dan investasi perusahaan ikut melambat.

2. Risiko deflasi dan penurunan aktivitas ekonomi 

Inflasi yang terlalu rendah bisa merubah menjadi deflasi, yaitu penurunan harga terus menerus. Kondisi ini membuat konsumen dan pelaku usaha menahan transaksi sehingga roda ekonomi melambat.

3. Bertambahnya pengangguran dan turunnya pendapatan 

Saat permintaan melemah, perusahaan mengurangi produksi dan investasi. Dampaknya, penyerapan tenaga kerja menurun dan pendapatan masyarakat ikut tertekan.

4. Melemahnya daya beli dan kesenjangan ekonomi 

Jika inflasi rendah terjadi bersamaan dengan stagnasi pendapatan, daya beli masyarakat turun. Hal ini menurunkan kesejahteraan dan memperlebat ketimpangan ekonomi.

5. Tantangan bagi kebijakan moneter 

Inflasi yang terlalu rendah menyulitkan bank sentral memberi stimulus tambahan karena suku bunga sudah mendekati batas bawah. Akibatnya, ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jadi terbatas. 

Keseimbangan Inflasi Ideal 

1. Target inflasi moderat 

Bank sentral umumnya  menargetkan inflasi moderat, sekitar 2–4%, karena tingkat ini mencerminkan ekonomi yang stabil dan permintaan yang sehat. Inflasi moderat mendorong konsumsi dan investasi tanpa menggerus daya beli.

2. Menjaga keseimbangan ekonomi 

Inflasi ideal menjaga keseimbangan antara daya beli dan pertumbuhan. Inflasi terlalu rendah bisa memicu deflasi, sedangkan inflasi tinggi menimbulkan ketidakpastian harga dan melemahkan konsumsi.

3. Target inflasi di Indonesia 

Bank Indonesia menargetkan inflasi di kisaran 2,5% ± 1% untuk menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan berkelanjutan. Target ini memberi ruang fleksibilitas bagi kebijakan moneter agar tetap responsif terhadap perubahan ekonomi.

4. Dampak positif inflasi moderat 

Inflasi yang stabil menciptakan iklim investasi jangka panjang, menjaga kepercayaan pasar, dan melindungi daya beli masyarakat dari fluktuasi harga ekstrem. 

Secara keseluruhan, inflasi rendah tidak bisa dinilai hanya dari angkanya, melainkan harus dilihat dalam konteks kondisi ekonomi secara menyeluruh.

Keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan daya beli masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kesehatan perekonomian jangka panjang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R