Capaian Setahun Prabowo di Bidang Ekonomi: Menuju Great Leap Indonesia di Era Baru Pertumbuhan

AKURAT.CO Satu tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi ajang ujian pertama bagi arah kebijakan ekonomi nasional.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, pemerintah berupaya meneguhkan komitmen untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun ke depan, sebuah target ambisius yang disebut banyak pihak sebagai Great Leap (Lompatan Besar) bagi ekonomi Indonesia.
Dalam forum bertajuk '1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth' di Jakarta, Kamis (16/10/2025), Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini menjadi nadi utama bagi visi besar tersebut.
“APBN bukan sekadar instrumen fiskal, melainkan motor penggerak seluruh program prioritas nasional yang dirancang dalam Asta Cita,” ujar Suahasil.
Baca Juga: Steve Forbes: Dunia Butuh Pemimpin Kuat, Tegas dan Visioner seperti Prabowo
Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan Kampung Nelayan menjadi contoh konkret bagaimana APBN difungsikan bukan hanya untuk menyalurkan dana, tetapi juga memperkuat struktur sosial-ekonomi di akar rumput.
APBN sebagai Penggerak Transformasi
Di bawah kendali Kementerian Keuangan, APBN diarahkan untuk menjadi alat adaptif yang mendukung restrukturisasi pemerintahan baru. Sejak awal, Kemendagri dan Kemenkeu diminta menyesuaikan tata kelola fiskal agar selaras dengan prioritas kabinet Prabowo–Gibran, mulai dari ketahanan pangan, energi, hingga digitalisasi pelayanan publik.
“Kita diminta melakukan refokusing anggaran supaya isu ketahanan pangan, energi, dan sektor strategis lainnya bisa berjalan mulus,” jelas Suahasil.
Langkah refokusing ini juga mencakup pembiayaan program baru, sekaligus menjaga keberlanjutan kebijakan lama yang dinilai efektif.
Pemerintah mengusung pendekatan fiskal yang fleksibel dan kredibel: APBN diharapkan menjadi jangkar stabilitas di satu sisi, dan instrumen akselerasi pertumbuhan di sisi lain.
“Setiap rupiah yang dibelanjakan harus memberi efek berganda bagi masyarakat,” tegas Suahasil.
Setahun berjalan, ekonomi Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,12% (yoy) pada triwulan II-2025, salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20, melampaui rata-rata global 3% versi IMF.
Baca Juga: Capaian Setahun Prabowo di Bidang Ekonomi: APBN Jadi Senjata Andalan Wujudkan Ekonomi 8 Persen
Senada dengan Suahasil, Chief Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, capaian ini menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi nasional cukup tangguh menghadapi perlambatan global.
“Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi konstruksi, dan ekspor manufaktur yang meningkat setelah kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat pada Juli 2025,” ujarnya.
Sektor manufaktur tumbuh 5,68%, perdagangan 5,37%, dan pertanian 2,03%. Sementara jasa keuangan, transportasi, dan pariwisata juga mencatat tren positif seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan, menyumbang lebih dari 55% terhadap PDB. Program Makan Bergizi Gratis dan bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan terbukti menjaga daya beli kelompok menengah bawah, menahan pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen yang sempat turun pada September 2025.
Lonjakan Investasi dan Hilirisasi
Realisasi investasi semester I-2025 mencapai Rp943 triliun, naik 13,6% dibanding tahun sebelumnya. Tiga faktor menjadi pendorong utama:
Penanaman Modal Asing (PMA) di sektor manufaktur dan energi terbarukan khususnya di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang kini menjadi basis ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) meningkat di sektor konstruksi dan properti seiring percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kawasan industri.
Peran Lembaga Dana Abadi Nasional (Danantara) yang mulai aktif melakukan investasi strategis bersama mitra swasta global.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi 5,8–7% per tahun, dengan efisiensi investasi (Incremental Capital Output Ratio/ICOR) turun menuju 5,5 pada 2027. Reformasi perizinan lewat Online Single Submission (OSS) dan skema Public-Private Partnership (PPP) menjadi kunci percepatan.
Inflasi Terkendali, Daya Beli Terjaga
Sedangkan jika di lihat dari sisi harga, inflasi domestik tetap dalam kendali. Pada Agustus 2025 tercatat 2,31%, sedikit naik menjadi 2,65% pada September, namun masih dalam target Bank Indonesia sebesar 2,5 ±1%.
Inflasi inti stabil di 2,19%, menunjukkan daya beli masyarakat tetap kuat. Lonjakan harga pangan akibat beras dan bawang merah berhasil ditekan lewat operasi pasar dan cadangan beras pemerintah (CBP) yang kini mencapai 1,2 juta ton.
Tingkat pengangguran terbuka juga turun menjadi 4,6%, terendah dalam dua dekade terakhir. Program padat karya, magang lulusan baru, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp179 triliun dengan bunga 6% berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja informal.
Oleh karena itu, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi pondasi stabilitas ekonomi tahun pertama. Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) ke 4,75% sejak September 2025 untuk mendorong ekspansi kredit dan investasi.
Di sisi lain, defisit APBN dijaga di level 2,78% terhadap PDB, jauh di bawah batas 3% yang diatur undang-undang. Pemerintah juga menyalurkan stimulus '8 + 4 + 5' senilai Rp16,2 triliun untuk memperkuat konsumsi dan investasi, termasuk subsidi bunga dan bantuan sosial tambahan.
Cadangan devisa mencapai USD148,7 miliar, cukup untuk enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, menjaga stabilitas rupiah di kisaran Rp16.300–Rp16.400 per dolar AS.
Tak heran, lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan S&P Global tetap mempertahankan rating Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, sedangkan Moody’s menempatkan pada Baa2 dengan outlook serupa.
Tantangan Menuju Pertumbuhan 8 Persen
Kendati capaian tahun pertama dinilai positif, tantangan menuju pertumbuhan 8% pada 2029 tidak ringan. Josua mengingatkan bahwa untuk mencapainya, Indonesia harus tumbuh rata-rata 5,4–6 persen per tahun mulai 2026.
Beberapa pekerjaan rumah masih besar:
- ICOR Indonesia masih tinggi di 6,3, jauh di atas Vietnam (4,6) dan Malaysia (4,5).
- Daya saing global turun ke peringkat 40 dari 69 negara karena produktivitas dan infrastruktur belum optimal.
- Kemandirian fiskal daerah masih lemah, 80% pendapatan daerah bergantung pada transfer pusat.
- Kualitas SDM belum merata antarwilayah.
Untuk itu, strategi ganda diperlukan yakni memperluas ruang fiskal tanpa membebani defisit, memperkuat kredit produktif, mempercepat hilirisasi industri, dan mendorong investasi hijau serta digitalisasi UMKM.
“Jika efisiensi investasi membaik, pertumbuhan 6–6,3 persen pada 2026 realistis tercapai. Indonesia punya peluang nyata menembus 8 persen pada 2029,” ujar Joshua.
Optimisme Menuju Indonesia Emas 2045
Forum ekonomi yang dihadiri para pelaku kebijakan dan ekonom itu menegaskan satu hal yaitu tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran berhasil menjaga stabilitas ekonomi, sekaligus membangun pondasi transformasi struktural.
Pertumbuhan tetap solid, inflasi terkendali, pengangguran menurun, dan investasi meningkat. Namun untuk melangkah menuju Visi Indonesia Emas 2045, pemerintah harus mempercepat produktivitas, inovasi, dan pemerataan ekonomi.
“Cita-cita 8 persen bukan sekadar angka, sebab itu adalah visi bersama untuk membawa Indonesia naik kelas, menjadi negara maju yang tangguh, adil, dan berkelanjutan,” tutup Wamenkeu Sua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










