Akurat

Jadi Kompas Menuju Indonesia Emas 2025, Bappenas Luncurkan Tabel Kehidupan

Hefriday | 6 Oktober 2025, 21:02 WIB
Jadi Kompas Menuju Indonesia Emas 2025, Bappenas Luncurkan Tabel Kehidupan

AKURAT.CO Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkenalkan Tabel Kehidupan (Life Table) Indonesia sebagai salah satu instrumen penting dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional. 

Direktur Kependudukan dan Jaminan Sosial Bappenas, Muhammad Cholifihani, menegaskan bahwa tabel ini akan menjadi “kompas” dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

“Tabel Kehidupan bukan sekadar data statistik, tetapi panduan yang membantu kita membaca peta masa depan bangsa. Melalui angka-angka di dalamnya, kita bisa memahami harapan hidup, kualitas kesehatan, hingga tantangan lintas generasi,” ujar Cholifihani dalam kegiatan Diseminasi Tabel Kehidupan Indonesia: Mengukur Harapan Merancang Masa Depan di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (6/10/2025).

Menurutnya, kebijakan publik yang efektif harus bertumpu pada data kependudukan yang akurat dan presisi. Dengan adanya Tabel Kehidupan, pemerintah dapat menargetkan intervensi kebijakan di bidang kesehatan, pendidikan, maupun perlindungan sosial secara lebih tepat sasaran. 
 
 
Pendekatan berbasis data ini juga diharapkan mampu memperkuat transparansi dan akuntabilitas pembangunan nasional.

Lebih lanjut, Tabel Kehidupan Indonesia disusun berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 dengan metode statistik mutakhir. Hal ini menjadikan data yang dihasilkan lebih relevan dengan kondisi riil di Indonesia dibandingkan model global. 
 
Tabel ini menyediakan parameter mortalitas yang akurat hingga tingkat daerah, termasuk proyeksi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin.

Bappenas menilai, Tabel Kehidupan berperan penting dalam mendukung dua target utama Indonesia Emas (IE), yaitu IE1 tentang kesehatan untuk semua, dan IE3 tentang perlindungan sosial yang adaptif. 
 
Untuk IE1, pemerintah menargetkan sistem kesehatan nasional yang tangguh dan responsif, penurunan angka stunting hingga 5%, eliminasi tuberkulosis dan kusta, serta peningkatan usia harapan hidup hingga 80 tahun pada 2045.

Dalam konteks itu, Tabel Kehidupan berfungsi mengukur sejauh mana indikator kesehatan nasional, seperti angka kematian bayi yang ditargetkan menjadi 4,2 per 1.000 kelahiran, telah mendukung tercapainya harapan hidup 80 tahun. 
 
Data tersebut menjadi acuan bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan kesehatan nasional yang lebih presisi dan berkelanjutan.

Sementara itu, untuk target IE3, Bappenas menargetkan peningkatan cakupan jaminan sosial hingga 99,5% pada tahun 2045. 
 
Tabel Kehidupan berperan penting dalam proyeksi biaya dan beban kesehatan, penyusunan manfaat bagi penyandang disabilitas, serta penguatan perlindungan kesehatan melalui analisis penyakit kritis, penyakit langka, hingga ancaman baru akibat perubahan iklim dan pandemi.

Selain itu, Tabel Kehidupan juga menjadi dasar dalam memperkuat ekuitas dan pengurangan beban finansial masyarakat. 
 
Dengan sistem surveilans kesehatan yang terintegrasi, pemerintah dapat melakukan monitoring dan evaluasi secara cepat dan akurat untuk mempercepat proses pengambilan keputusan. 
 
Pendekatan ini juga mendukung kebijakan yang berfokus pada kesadaran kesehatan sejak masa neonatal hingga lanjut usia.

Cholifihani menjelaskan, Indonesia memiliki karakteristik demografi yang beragam di setiap daerah. Misalnya, tingkat kelahiran di Jakarta sudah berada di bawah dua (sekitar 1,7–1,8), di Bali mencapai 1,9, sementara wilayah timur seperti Maluku, Papua, dan Sulawesi masih berada di atas 2,3–2,4. 
 
Dengan memahami Tabel Kehidupan, maka kebijakan pembangunan dapat disesuaikan dengan realitas demografi di tiap provinsi, bukan dengan pendekatan seragam untuk seluruh wilayah.

Lebih jauh, World Health Organization (WHO) juga merekomendasikan setiap negara memiliki Tabel Kehidupan nasional yang disesuaikan dengan kondisi demografi dan kualitas datanya. 
 
Indonesia melalui Bappenas kini menjadikan instrumen tersebut sebagai acuan dalam perencanaan pembangunan yang lebih berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam jangka pendek hingga menengah, Tabel Kehidupan diharapkan mampu memperkuat sistem registrasi kematian dan meningkatkan kualitas data vital nasional. 
 
Sementara dalam jangka panjang, instrumen ini akan berperan penting dalam mendukung tercapainya usia harapan hidup 80 tahun melalui pengendalian penyakit menular dan tidak menular, peningkatan layanan lansia, serta penguatan literasi kesehatan masyarakat.

Cholifihani menegaskan, masa depan pembangunan Indonesia bergantung pada bagaimana generasi muda memanfaatkan data dan ilmu pengetahuan dalam merancang kebijakan. 
 
“Kita berharap masa depan Tabel Kehidupan ini ada di tangan generasi Z dan generasi Alpha. Mereka yang akan memastikan Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” tukasnya.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa