Akurat

Menelaah Dampak Shutdown AS terhadap Ekonomi, Pasar, dan Dunia Usaha

Demi Ermansyah | 2 Oktober 2025, 08:10 WIB
Menelaah Dampak Shutdown AS terhadap Ekonomi, Pasar, dan Dunia Usaha

AKURAT.CO Amerika Serikat kembali berada di ambang penutupan pemerintahan (government shutdown) akibat kebuntuan politik di Kongres.

Perselisihan tajam soal prioritas anggaran antara Partai Republik dan Demokrat membuat jarum jam anggaran berdetak ke arah krisis fiskal yang berpotensi mengguncang perekonomian terbesar dunia itu.

Meski shutdown bukan fenomena baru dalam politik anggaran AS, situasi kali ini jauh lebih kompleks. Ketegangan politik meningkat, ancaman pemutusan hubungan kerja massal membayangi pegawai federal, dan kondisi ekonomi yang rapuh membuat pasar keuangan lebih rentan terhadap guncangan.

Bagi dunia usaha dan investor global, dinamika ini bukan sekadar drama politik domestik, tetapi sinyal potensi gangguan ekonomi dengan efek riak hingga ke berbagai belahan dunia.

Taruhan Ekonomi di Tengah Ketegangan Politik

Diketahui shutdown akan terjadi apabila kongres gagal menyetujui anggaran federal sebelum tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Jika itu terjadi, sebagian besar instansi pemerintah akan berhenti beroperasi, ratusan ribu pegawai federal dirumahkan tanpa bayaran, dan sejumlah layanan publik penting terhenti.

Baca Juga: Taiwan Klarifikasi Isu Pembagian Produksi Chip 50-50 dengan AS

Semakin membuat situasi saat ini lebih parah yakni kondisi ekonomi AS yang sudah menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Pasar tenaga kerja mulai rapuh, inflasi masih menjadi momok, dan kebijakan suku bunga tinggi menekan konsumsi.

Di tengah kondisi tersebut, Presiden Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan langkah ekstrem, dimana dirinya melakukan pemutusan hubungan kerja permanen terhadap sebagian pegawai federal, bukan sekadar merumahkan mereka.

Langkah ini, jika benar terjadi, akan memicu lonjakan klaim pengangguran dan memperburuk kondisi pasar tenaga kerja.

Mengutip dari laman Bloomberg Economics memperkirakan sekitar 640.000 pegawai federal akan dirumahkan jika shutdown berlangsung lama, mendorong tingkat pengangguran naik ke 4,7%. Bahkan setelah shutdown berakhir, tingkat pengangguran diperkirakan tetap tinggi jika PHK massal benar-benar dilakukan.

Baca Juga: AS Temukan Cengkeh RI Terkontaminasi Radiaktif, Komisi IV DPR Minta Bapeten Segera Investigasi

Selain itu, terhentinya publikasi data ekonomi resmi termasuk laporan tenaga kerja bulanan dan inflasi akan semakin menyulitkan pelaku pasar dan bank sentral membaca arah ekonomi. Hal ini dapat menimbulkan volatilitas jangka pendek yang signifikan, terutama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Tekanan pada Pasar Keuangan dan Investor

Secara historis, pasar saham AS relatif tenang menghadapi shutdown. Data Truist menunjukkan bahwa indeks S&P 500 rata-rata hampir tidak bergerak selama 20 shutdown terakhir. Namun, kondisi pasar kali ini berbeda.

Valuasi saham telah terdorong tinggi oleh reli berkepanjangan, sementara volatilitas relatif rendah. Situasi ini menciptakan ruang bagi pergerakan harga yang tajam jika sentimen berubah.

“Shutdown kali ini bisa memiliki implikasi lebih besar karena taruhannya sudah tinggi bahkan sebelum peristiwa ini terjadi,” kata Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick.

Dalam skenario shutdown berkepanjangan, investor kemungkinan akan mengalihkan portofolio mereka ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS. Harga emas telah mendekati rekor USD4.000 per ons, sebagian didorong oleh pelemahan dolar yang diperkirakan akan terus berlanjut jika shutdown berlangsung lama.

Baca Juga: AS Buka Peluang Ukraina Gunakan Rudal Jarak Jauh untuk Serang Rusia

Obligasi pemerintah AS atau Treasury juga diprediksi akan tetap menarik. “Pembayaran kupon dan pokok utang tidak berisiko. Dengan imbal hasil yang tinggi, Treasury tetap menjadi opsi aman di tengah ketidakpastian," ucap Analis Morgan Stanley Wealth Management, Monica Guerra. 

Industri dan Sektor yang Paling Terpengaruh

Dampak shutdown tidak merata. Sektor-sektor tertentu menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan lainnya.

1. Pertahanan dan kontraktor pemerintah

Perusahaan seperti RTX Corp, L3Harris Technologies, dan Lockheed Martin menikmati kenaikan laba dari belanja federal yang besar. Namun, shutdown dapat meredam optimisme investor terhadap saham-saham ini, meskipun dampak fundamentalnya terbatas.

2. Konsultan dan penyedia layanan pemerintah

Perusahaan seperti Booz Allen Hamilton dan CACI International bergantung pada proyek-proyek pemerintah. Shutdown yang berkepanjangan akan menekan pendapatan mereka, meskipun dampaknya biasanya bersifat sementara.

3. Maskapai penerbangan

Sekitar 2 persen pendapatan maskapai berasal dari perjalanan yang didanai pemerintah. Gangguan terhadap anggaran akan mengurangi arus pendapatan dan menekan permintaan perjalanan, apalagi jika pegawai federal yang dirumahkan memangkas belanja rekreasinya.

4. Sektor siklikal (industri dan keuangan)

Jika shutdown cukup lama dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor seperti industri dan perbankan akan terpukul keras. Perusahaan seperti Caterpillar dan Deere & Co rentan terhadap perlambatan permintaan, sementara bank besar seperti JPMorgan Chase dan penyedia kredit seperti Affirm Holdings menghadapi volatilitas tinggi akibat perubahan sentimen konsumen.

Sebaliknya, investor cenderung beralih ke sektor defensif seperti kesehatan dan utilitas yang lebih stabil di tengah ketidakpastian.

Dampak Global dan Respons Investor

Karena ekonomi AS terhubung erat dengan ekonomi global, dampak shutdown berpotensi meluas ke luar negeri. Mata uang yen Jepang dan euro berpotensi menguat jika dolar AS melemah. Negara-negara mitra dagang utama AS juga dapat merasakan efek riaknya, terutama melalui penurunan permintaan ekspor dan gejolak pasar keuangan.

Bagi investor internasional, shutdown bukan sekadar isu domestik AS. Ini adalah ujian bagi daya tahan pasar global terhadap ketidakpastian kebijakan fiskal.

“Sebab apabila shutdown berlangsung lama, hal ini dapat menarik perhatian pada banyak risiko yang ada di radar,” kata Kepala Strategi Geopolitik BCA Research, Matt Gertken.

Dalam sejarahnya, sebagian besar shutdown di AS berakhir dengan kesepakatan politik di menit-menit terakhir. Namun, dinamika saat ini menunjukkan bahwa risiko lebih besar dari sebelumnya. Kombinasi antara ketegangan politik, kondisi ekonomi yang rapuh, dan kebijakan yang tak terduga menciptakan potensi guncangan sistemik.

Bagi pemerintah AS, kebuntuan ini merupakan ujian atas kemampuan demokrasi dalam mengelola fiskal. Bagi pasar, ini adalah ujian ketahanan terhadap ketidakpastian. Dan bagi dunia usaha global, ini adalah pengingat bahwa dinamika politik di satu negara dapat bergema jauh melampaui batas teritorialnya.

Dengan semua risiko tersebut, para pelaku pasar, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan kini harus menyiapkan strategi menghadapi skenario terburuk. Sebab, ketika jarum jam terus berdetak menuju shutdown, konsekuensinya bisa jauh melampaui Washington, merembet ke Wall Street, dan mengguncang ekonomi dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.