Akurat

Revisi Data Tenaga Kerja Guncang Prospek Ekonomi AS

Demi Ermansyah | 11 September 2025, 14:20 WIB
Revisi Data Tenaga Kerja Guncang Prospek Ekonomi AS

AKURAT.CO Revisi besar pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) mengubah cara pandang terhadap kondisi ekonomi negeri tersebut.

Beberapa waktu lalu, Departemen Tenaga Kerja melaporkan bahwa jumlah penambahan payroll selama 12 bulan hingga Maret ternyata 911.000 lebih sedikit dari perkiraan awal. Koreksi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kekuatan pasar tenaga kerja AS selama ini telah dinilai terlalu optimistis.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent  segera menanggapi temuan tersebut dengan mendesak Federal Reserve (The Fed) untuk menyesuaikan kebijakan moneternya.

Menurut Bessent, data revisi membuktikan bahwa ekonomi sedang melambat lebih cepat dari yang disadari publik.

Baca Juga: Pasar AS Menguat, Risiko Inflasi Bayangi Kebijakan The Fed

“Kita tidak punya fakta yang benar. The Fed seharusnya melakukan kalibrasi ulang kebijakan,” ucapnya mengutip dari laman reuters.

Bessent bahkan mengutip pernyataan ekonom John Maynard Keynes: “Ketika fakta berubah, saya mengubah pikiran saya.” Baginya, data terbaru ini cukup menjadi alasan untuk menurunkan suku bunga yang kini berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.

Ekonom memperkirakan, jika data ketenagakerjaan memang lebih lemah, risiko resesi bisa meningkat. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan dapat melemah, sementara investasi tertahan akibat biaya pinjaman mahal.

Dengan demikian, prospek pertumbuhan ekonomi AS pada paruh kedua 2025 menjadi lebih suram dibanding prediksi sebelumnya.

Baca Juga: PPI AS Turun, Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed Terbuka

Di sisi lain, sebagian analis tetap berhati-hati. Mereka menilai The Fed tidak bisa hanya mengandalkan satu revisi data. Inflasi yang masih berada di atas target 2 persen tetap menjadi perhatian utama.

Jika bank sentral terburu-buru menurunkan suku bunga, kredibilitasnya dalam menjaga stabilitas harga bisa dipertaruhkan.

Koreksi besar pada data ketenagakerjaan menjadi pengingat penting bahwa kebijakan ekonomi harus fleksibel terhadap fakta baru.

Namun, jalan menuju penyesuaian kebijakan moneter tidak sesederhana itu. The Fed kini menghadapi dilema melonggarkan kebijakan untuk menjaga pertumbuhan atau bertahan pada suku bunga tinggi demi menaklukkan inflasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.