Akurat

Jaga Kepercayaan Pasar, Pemerintah Perlu Kebijakan Tepat dan Komunikasi Yang Jelas

Hefriday | 1 September 2025, 18:26 WIB
Jaga Kepercayaan Pasar, Pemerintah Perlu Kebijakan Tepat dan Komunikasi Yang Jelas

AKURAT.CO Pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi fase penyesuaian setelah aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kondisi ini menjadi sinyal serius bagi pemerintah untuk memperkuat kembali kepercayaan publik melalui kebijakan yang tepat dan komunikasi yang jelas.

“Kondisi keprihatinan sedang melanda bangsa Indonesia atas apa yang terjadi dalam seminggu terakhir, yang pasti akan mempengaruhi pasar keuangan baik rupiah maupun bursa saham,” kata Fakhrul di Jakarta, Senin (1/9/2025).

Menurutnya, koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun ke level 7.700 serta pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp16.400 per USD merupakan peringatan nyata.

Angka tersebut dianggap sebagai refleksi dari ekspektasi pasar yang sedang melakukan rekalibrasi terhadap situasi politik dan sosial dalam negeri.Fakhrul menekankan bahwa pemerintah harus segera meningkatkan kepercayaan publik (trust) sebagai modal utama menjaga stabilitas. 

“Hal itu hanya bisa dicapai apabila pengambilan kebijakan dilakukan dengan proses yang baik, dikomunikasikan secara jelas, serta tetap menjaga empati kepada masyarakat,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, rasa keadilan menjadi unsur penting yang perlu diperhatikan dalam setiap keputusan politik maupun ekonomi. Jika aspek tersebut diabaikan, maka bukan hanya pasar keuangan yang terguncang, tetapi juga kohesi sosial yang berperan langsung terhadap keberlangsungan aktivitas ekonomi nasional.

Meski IHSG melemah, Fakhrul melihat adanya titik terang dari sisi likuiditas. Tingginya permintaan dalam lelang Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan bahwa fundamental domestik masih cukup kuat.
 
Menurutnya, penurunan pasar saham saat ini cenderung bersifat terbatas karena investor masih menaruh keyakinan pada komitmen pemerintah menjaga keamanan dan ketertiban.

Terkait nilai tukar rupiah, Fakhrul memperkirakan pelemahan masih bisa berlanjut dalam jangka pendek hingga ke Rp16.500 per USD akibat meningkatnya sentimen risk-off global. Namun, dalam jangka menengah, peluang penguatan kembali terbuka seiring rencana Bank Sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga serta dukungan likuiditas domestik yang terjaga.

“Likuiditas cukup, tapi kita butuh arahan yang konkret dari pemerintah. Sebelum ini tercapai, IHSG akan berada dalam kondisi konsolidasi,” jelasnya.

3 Langkah Strategis

Fakhrul juga menyampaikan tiga langkah strategis yang sebaiknya segera dilakukan pemerintah. Pertama, mempercepat pembenahan keamanan untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat pasca demonstrasi. 

Kedua, mempercepat realisasi APBN 2025 agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi. Ketiga, memastikan empati menjadi landasan dalam setiap komunikasi resmi lembaga negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.

Selain langkah jangka pendek, Fakhrul menilai pemerintah juga perlu memberi perhatian khusus pada sektor-sektor strategis di pasar modal. Ia menyebut sektor energi terbarukan dan consumer goods sebagai dua bidang yang berpotensi menjadi motor penggerak di tengah kondisi penuh ketidakpastian.

“Semoga kondisi terus membaik ke depannya dengan komunikasi dan tindakan nyata,” tukas Fakhrul.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa