Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi Sejak 2023, Ekonom: Terbantu Idulfitri dan Iduladha
Yosi Winosa | 11 Agustus 2025, 18:26 WIB

AKURAT.CO Permata Bank melalui lembaga risetnya, Permata Institute for Economic Research (PIER), merilis kajian terbaru mengenai kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal II-2025.
Berdasarkan data yang dihimpun, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,124% year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,874%. Angka tersebut juga melampaui konsensus pasar yang memperkirakan pertumbuhan di kisaran 4,804%.
Kinerja ini menjadi pencapaian pertumbuhan tercepat sejak kuartal II-2023. Pendorong utamanya berasal dari meningkatnya investasi, khususnya pada sektor pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
Meski demikian, belanja pemerintah masih mengalami kontraksi.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan pertumbuhan di atas ekspektasi ini mencerminkan ketahanan ekonomi domestik di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Ia menyoroti lonjakan investasi swasta, terutama pada sektor mesin dan peralatan, yang didukung oleh peningkatan impor barang modal dan percepatan sejumlah proyek infrastruktur.
“Konsumsi rumah tangga juga tetap solid, terbantu oleh momentum perayaan Idulfitri dan Iduladha. Ke depan, tantangan eksternal seperti ketegangan perdagangan global masih harus diantisipasi,” ujar Josua.
Sepanjang kuartal II-2025, investasi tercatat tumbuh 6,994% yoy, tertinggi sejak awal 2021. Pertumbuhan signifikan terjadi pada kategori mesin dan peralatan yang melonjak 25,304%, serta kategori bangunan dan struktur yang naik 4,894%.
Konsumsi rumah tangga juga menguat 4,974% yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan dorongan dari sektor transportasi dan komunikasi, makanan dan minuman, serta restoran dan hotel.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor tumbuh 10,676% yoy, sementara impor meningkat 11,654% yoy. PIER mencatat lonjakan ini terkait fenomena front-loading oleh mitra dagang, di mana pembelian produk impor dilakukan lebih awal menjelang penerapan tarif timbal balik oleh Amerika Serikat.
Sektor manufaktur, perdagangan, informasi dan komunikasi, serta konstruksi menjadi kontributor utama pertumbuhan pada kuartal II-2025. Sementara itu, sektor jasa lainnya mencatat laju pertumbuhan tertinggi, yakni 11,314% yoy.
Melihat tren positif tersebut, PIER memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 4,84–5,14%. Josua menilai, semester II akan mendapat dukungan tambahan dari belanja pemerintah dan paket stimulus yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat.
Investasi juga diperkirakan akan tetap positif, sejalan dengan kebijakan moneter yang akomodatif, termasuk potensi lanjutan pemangkasan suku bunga acuan.
“Dengan kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kondusif, kami optimistis prospek ekonomi akan tetap terjaga. Tantangan dari eksternal akan terus dipantau, namun pondasi ekonomi domestik cukup kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan,” kata Josua.
PIER menegaskan komitmennya untuk menyediakan analisis yang komprehensif mengenai perkembangan ekonomi nasional.
Lembaga ini berharap, hasil kajian yang dipublikasikan dapat memperluas wawasan publik, mendukung pengambilan kebijakan, dan memberikan panduan bagi pelaku usaha serta investor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










