Akurat

Bank China Tertekan Sanksi AS dan Uni Eropa, Risiko Isolasi Keuangan Meningkat

Demi Ermansyah | 22 Juli 2025, 10:50 WIB
Bank China Tertekan Sanksi AS dan Uni Eropa, Risiko Isolasi Keuangan Meningkat

AKURAT.CO Semakin banyaknya bank China yang masuk ke dalam daftar sanksi negara-negara Barat menunjukkan meningkatnya tekanan global terhadap Beijing di tengah konflik Rusia–Ukraina.

Setelah Amerika Serikat, kini giliran Uni Eropa yang menjatuhkan sanksi terhadap dua bank lokal China karena dianggap memfasilitasi pembiayaan tidak langsung bagi Moskwa.

Dalam putaran sanksi terbaru yang diumumkan beberapa waktu lalu, Uni Eropa menargetkan Heihe Rural Commercial Bank Co dan Heilongjiang Suifenhe Rural Commercial Bank Co, dua lembaga keuangan yang diduga memproses transaksi berbasis mata uang kripto untuk membantu Rusia menghindari sanksi Barat.

Baca Juga: Tekanan Sanksi Ekonomi Menguat, PM Inggris Tantang Putin Segera Akhiri Perang

Langkah ini langsung mendapat kecaman dari pemerintah China. Kementerian Perdagangan dalam pernyataan resminya Senin (21/7) menyebut tindakan Uni Eropa sebagai “provokatif dan tidak berdasar”, serta mengancam akan membalas dengan kebijakan yang setimpal.

"Kerja sama normal antara perusahaan China dan Rusia sah secara hukum dan seharusnya tidak menjadi alasan bagi sanksi sepihak," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengutip dari laman bloomberg.

Sebelum langkah Uni Eropa ini, Amerika Serikat telah lebih dahulu menerapkan sanksi terhadap sejumlah bank China, termasuk Industrial & Commercial Bank of China Ltd dan Bank of China Ltd, yang kemudian memperketat pembiayaan ekspor kepada Rusia sejak awal 2023.

Tentunya langkah tersebut diambil demi menghindari risiko terkena sanksi sekunder dari Washington, yang bisa berujung pada pemutusan akses ke sistem keuangan global berbasis dolar.

Analis keuangan dari Peking University, Dr. Liu Zhen, menilai bahwa tekanan bertubi-tubi dari Barat berpotensi mengisolasi lembaga keuangan China di pasar internasional.

"Jika bank-bank China tidak hati-hati, mereka bisa kehilangan akses terhadap sistem pembayaran internasional seperti SWIFT, yang menjadi nadi transaksi global," ungkapnya.

Baca Juga: Diduga Bantu Rusia Perangi Ukraina, China Kena Sanksi Ekonomi Uni Eropa

Sementara itu, langkah Uni Eropa ini juga menjadi sinyal kuat bahwa Barat akan memperluas cakupan sanksi, tidak hanya ke entitas Rusia tetapi juga negara mitra yang dianggap memberi dukungan logistik atau finansial.

"Sehingga, kondisi tersebut memaksa bank-bank China untuk berada dalam posisi dilematis, tetap menjalin hubungan bisnis dengan Rusia dan berisiko dijatuhi sanksi internasional, atau memutus hubungan demi mempertahankan akses globalnya. Beberapa bank negara bahkan telah membatasi transaksi dengan entitas Rusia sejak tahun lalu," papar Dr. Liu.

Secara tidak langsung, lanjutnya, krisis ini mempertegas posisi China yang semakin tersudut dalam percaturan geopolitik global, terutama ketika konflik Ukraina tak kunjung reda dan tekanan Barat yang semakin menggencar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.