Akurat

Ketidakpastian Global dan Minimnya Belanja Pemerintah Tekan Rupiah ke Level Rp16.323

Hefriday | 21 Juli 2025, 19:54 WIB
Ketidakpastian Global dan Minimnya Belanja Pemerintah Tekan Rupiah ke Level Rp16.323

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan lambatnya realisasi belanja pemerintah dalam negeri.

Berdasarkan perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah sebesar 26 poin ke level Rp16.323 per USD, setelah sempat tertekan hingga 50 poin dari posisi sebelumnya di Rp16.295.

Menurut Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari dinamika eksternal, tetapi juga disebabkan oleh faktor internal, seperti lambatnya penyerapan anggaran negara dan terbatasnya stimulus ekonomi.

Di pasar global, indeks dolar AS tercatat menguat pada Senin (21/7/2025) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketegangan perdagangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Baca Juga: Pasar Menanti Data Pengangguran AS, Rupiah Nanjak 33 Poin ke Rp16.224

Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa Uni Eropa tengah mempersiapkan langkah balasan atas rencana pemberlakuan tarif Presiden Donald Trump terhadap produk asal Eropa.

Kebijakan tarif dasar sebesar 15% yang direncanakan AS mengejutkan para negosiator Uni Eropa.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick bahkan menegaskan bahwa tenggat waktu pemberlakuan tarif tersebut jatuh pada 1 Agustus, dengan cakupan tarif berkisar antara 20% hingga 50% terhadap sejumlah negara mitra dagang utama.

Ibrahim mengatakan bahwa perkembangan ini membuat pasar keuangan global menjadi semakin gelisah.

“Ketidakpastian atas kebijakan perdagangan AS memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS, yang pada akhirnya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelasnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (21/7/2025).

Sentimen negatif turut diperburuk oleh ancaman sanksi baru dari Presiden Trump terhadap pembeli ekspor Rusia, jika Moskow tidak menyetujui kesepakatan damai dalam 50 hari.

Situasi geopolitik ini menambah ketegangan di pasar global dan membuat investor mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko.

Sementara itu, ketidakpastian politik di Asia juga berkontribusi terhadap kekhawatiran investor.

Hasil pemilu majelis tinggi di Jepang menunjukkan Partai Demokrat Liberal yang berkuasa kehilangan mayoritas setelah hanya meraih 47 dari 248 kursi yang tersedia.

Kondisi ini memunculkan spekulasi tentang masa depan kebijakan ekonomi di Jepang dan menambah ketidakpastian di kawasan Asia Timur.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah diperparah oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi dan penyerapan belanja negara.

Data kuartal II-2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi diperkirakan stagnan di angka sekitar 4,87% secara tahunan (YoY), tidak jauh berbeda dari kuartal sebelumnya.

Meski kuartal kedua ditandai dengan momen libur sekolah, dampaknya tidak sekuat Ramadan dan Idulfitri. Belanja pemerintah yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi, justru masih belum optimal.

Pemerintah memang mulai membuka blokir anggaran sejak Maret lalu, tetapi penyalurannya belum berjalan cepat.

Stimulus fiskal yang diberikan pun dinilai terlambat, karena baru muncul pada Juni 2025 atau di penghujung kuartal kedua.

Ibrahim menyoroti bahwa stimulus tersebut juga bersifat terbatas, karena hanya menyasar calon kelas menengah, padahal kelompok ini menyumbang lebih dari 50% konsumsi nasional.

Konsumsi rumah tangga, yang merupakan kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB) dengan porsi 54,53%, hanya tumbuh 4,89% YoY. Sementara konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 1,38% dan hanya berkontribusi 5,88% terhadap PDB.

Data Laporan Semester I APBN 2025 menunjukkan bahwa realisasi belanja negara hingga akhir Juni hanya mencapai Rp1.406 triliun atau 38,8% dari pagu sebesar Rp3.621,3 triliun.

Bahkan hingga 24 Juni, pembukaan blokir anggaran baru mencapai Rp134,9 triliun dari total dana cadangan Rp306,7 triliun.

“Ini membuktikan bahwa upaya mempercepat pemulihan ekonomi melalui belanja negara belum optimal,” ujar Ibrahim.

Dirinya juga menambahkan bahwa belanja negara bahkan diperkirakan hanya akan terealisasi sebesar 97,4% atau Rp3.527,5 triliun hingga akhir tahun.

Kementerian Keuangan sempat menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 bisa menembus 4,7% setelah dilakukan pembukaan blokir anggaran dan pemberian stimulus tambahan.

Stimulus yang diberikan antara lain diskon transportasi, Bantuan Subsidi Upah (BSU), dan tambahan bantuan pangan senilai total Rp24,4 triliun.

Namun, Ibrahim menilai stimulus tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

“Dampaknya masih akan terasa pada kuartal III, bukan pada kuartal II. Jadi wajar jika rupiah masih fluktuatif dalam waktu dekat,” terangnya.

Melihat situasi global dan domestik, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan.

Untuk perdagangan Selasa (18/07/2025), mata uang rupiah diprediksi bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah dalam rentang Rp16.310 hingga Rp16.360 per USD.

Dirinya juga menekankan bahwa ketahanan rupiah sangat bergantung pada dua faktor utama: ketidakpastian global dan efektivitas kebijakan domestik.

Jika pemerintah tidak mampu mengakselerasi belanja dan memberikan stimulus yang lebih luas, maka tekanan terhadap rupiah akan berlanjut.

"Tanpa akselerasi fiskal dan kepastian kebijakan yang solid, kita akan terus melihat rupiah terombang-ambing oleh gejolak global," tukas Ibrahim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa