Akurat

Harga Emas Menuju USD3.400 per Ounce Pekan Depan

M. Rahman | 20 Juli 2025, 16:51 WIB
Harga Emas Menuju USD3.400 per Ounce Pekan Depan

AKURAT.CO Harga emas global ditaksir tembus ke kisaran USD3.296-USD3.400 per Ounce pekan depan lantaran didorong sejumlah faktor.

Searah, indeks dolar AS atau DXY juga ditaksir menguat ke level 97,50-99,70 pekan depan. Hal ini disampaikan oleh Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi.

"Saya lihat secara teknis harga emas dunia dan dolar AS baik secara daily maupun weekly akan mengalami penguatan. Untuk senin besok harga emas supportnya kemungkinan besar di USD3.324 per ounce dan resistancenya di USD3.375 per ounce. Sementara dolar atay DXY besok di 97,90-98,90," ujar Ibrahim, Minggu (20/7/2025).

Menurut Ibrahim, ada beberapa faktor yang mendorong penguatan emas dan dolar AS pekan depan. Pertama, spekulasi bahwa The Fed bakal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama menyusul data ekonomi yang masih baik. Inflasi atau CPI masih di atas ekspektasi 2%, tepatnya di 2%.

Baca Juga: Harga Emas Global Bakal Tembus USD3.443,7 per Ounce Karena Ini

"Faktor kedua, adanya ketengangan antara Pemerintah AS dan The Fed dimana Trump dan Menko Ekonomi AS mendesak pemakzulan Powell. Bahkan Partai Republik dikongres pun ikut membantu pemakzulkan. Fakta bahwa Pemerintah AS sebagai eksekutif ikut campur urusan Bank Sentral yang seharusnya independen membuat masyarakat kembali mencari aset yang aman yakni logam mulia sebagai safe haven," papar Ibrahim.

Faktor ketiga, kekhawatiran seputar pertumbuhan utang AS usai disahkannya UU terkait pembaruan tarif. Pemerintah AS akan mencari utang baru di atas USD3 triliun, hal ini membuat investor kembali melarikan dana ke safe haven.

Faktor keempat, Trump memberikan tarif tambahan ke Anggota BRICS sebesar 10% yang kemungkinan besar akan berlaku di awal Agustus. Di sisi lain Trump juga mengumumkan tarif impor 50% untuk Brasil karena dianggap melakukan praktik perdagangan tidak adil.

Kemudian, Uni Eropa sepakat memberikan sanksi ke Rusia dimana Uni Eropa tak akan mengimpor crude oil dan gas alam dari Rusia.

"Meski Rusia mendapat sanksi ekonomi tapi tetap melakukan serangan ke wilayah Uraina sehingga geopolitik terus memanas. Lalu ada juga faktor Israel dan Hamas di jalur Gaza pun turut memanaskan geopolitik," ujar Ibrahim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa