Akurat

Hilirisasi Freeport dan Tarif Trump

Yosi Winosa | 17 Juli 2025, 17:09 WIB
Hilirisasi Freeport dan Tarif Trump

freeport

AKURAT.CO Hilirisasi tembaga yang saat ini dilakukan oleh raksasa tambang AS Freeport-McMoran Inc. (FCX) lewat PT Freeport Indonesia (PTFI) bakal memainkan peran penting dalam negosiasi lanjutan tarif Trump dalam jangka menengah.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai Indonesia memang sudah diuntungkan banyak dengan negosiasi tarif Trump yang saat ini turun dari 32% menjadi 19%.

Hasil negosiasi tarif ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing ekspor sektor-sektor unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, furnitur, perikanan, dan kelapa sawit. Namun demikian, Esther menegaskan bahwa keberlanjutan daya saing ini tidak dapat mengandalkan tarif saat ini semata. 
 
 
“Kuncinya adalah bagaimana Indonesia meningkatkan bargaining power terhadap Amerika Serikat. Salah satu strateginya adalah dengan mengintegrasikan produk Indonesia ke dalam rantai pasok industri manufaktur di AS,” jelasnya saat dihubungi Akurat.co, Kamis 17/7/2025).
 
Menurut Esther, banyak pabrik milik perusahaan AS yang beroperasi di Indonesia dan mengandalkan bahan baku maupun produk setengah jadi dari Indonesia. Secara spesifik, Esther merujuk pada produk olahan atau turunan dari tembaga yang dihasilkan oleh Freeport.
 
Seperti diketahui, Freeport Indonesia segera mengoperasikan pabrik smelter katoda tembaga di kompleks Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Manyar, Gresik, Jawa Timur, mulai pekan depan.
 
Menurut pengakuan Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, Trump sejatinya mengincar akses penuh tembaga RI lewat PTFI. PTFI sendiri saat ini 51% sahamnya dimiliki pemerintah Indonesia lewat MIND ID, sisanya 49% dimiliki FCX. 
 
Negosiasi tambahan kepemilikan pemerintah RI menjadi 61% saat ini masih digodok Danantara. Pemerintah optimis bisa menambah kepemilikan saham 10% dengan mensyaratkan divestasi saham ini kalau Freeport ingin mendapat perpanjangan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) selepas 2041.
 
“Kalau produk dari Indonesia diproses di pabrik AS, dan kemudian dikembalikan sebagai komponen strategis, maka AS seharusnya memberikan preferensi tarif yang lebih rendah bagi kita,” ujarnya.
 
Jika dikembangkan lebih lanjut, smelter PTFI tak hanya bisa menghasilkan katoda tembaga, melainkan produk turunan tembaga lainnya seperti emas, perak, asam sulfat, terak, gipsum, timbal dan lain sebagainya.

Great Deal

Menurut Esther, secara umum tarif Trump 19% merupakan kesepakatan yang adil lantaran membuka ruang strategis bagi penguatan hubungan ekonomi bilateral sekaligus menjadi peluang besar untuk meningkatkan daya saing ekspor nasional. 
 
Di tengah ketegangan perdagangan global dan tekanan tarif dari negara-negara maju, posisi tarif 19% dinilai cukup kompetitif jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya seperti Laos (40%), Thailand (36%), Malaysia (25%), dan Vietnam (20%).
 
Tarif 19% bukan hanya sekadar angka, melainkan simbol dari keberhasilan menjaga stabilitas akses pasar ke AS, sekaligus mempertahankan kelangsungan industri padat karya domestik.
 
Untuk bisa mencapai kesepakatan ini, pemerintah juga melonggarkan kebijakan impor atau nol tarif Bea Masuk untuk 10 komoditas pangan strategis dari AS, termasuk jagung, kapas, dan kedelai, yang memang sangat dibutuhkan industri dalam negeri.
 
Di sisi lain, Esther melihat kebijakan tarif 0% untuk produk pangan AS bukan langkah yang berisiko melainkan sebagai strategi yang fair.  “Komoditas seperti kedelai, jagung, dan kapas memang belum bisa kita produksi cukup di dalam negeri, jadi ini adalah bentuk kebijakan yang pragmatis,” kata Esther. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa