Ketidakpastian Global Meningkat, Tarif Baru 50 Persen Trump Guncang Rantai Pasok

AKURAT.CO Pengumuman putaran tarif baru oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada Rabu (10/7/2025) lalu kembali mengguncang sentimen pasar global.
Meski belum menimbulkan kepanikan besar, kebijakan tersebut meningkatkan ketidakpastian bagi pelaku usaha yang mengandalkan kepastian rantai pasok dan hubungan dagang stabil dengan Amerika Serikat.
Dikutip dari laman reuters, Trump menegaskan bahwa tarif baru akan dikenakan terhadap delapan negara, termasuk tarif 50% untuk Brasil dan 30% untuk Irak, Libya, Sri Lanka, dan Aljazair.
Tidak sampai disitu saja, produk-produk olahan dari Filipina, Brunei, dan Moldova juga akan dikenai tarif antara 20 hingga 25%.
Baca Juga: Surat Cinta Donald Trump
Meski alasan tarif disebut berdasarkan angka-angka mentah dan akal sehat, para analis melihat langkah tersebut lebih menyerupai keputusan sepihak yang bisa merusak hubungan dagang jangka panjang dan menciptakan ketidakpastian di pasar.
“Pelaku pasar lebih sensitif terhadap sinyal arah kebijakan. Ketika presiden AS menyatakan akan menambahkan tarif 200% untuk obat-obatan dalam satu tahun jika perusahaan tak relokasi, itu menciptakan kecemasan serius terhadap stabilitas regulasi,” ujar Kepala riset pasar dari Morgan Financial Group, Joseph Lin.
Tentunya, lanjut Joseph, dampak dari tarif tersebut akan mulai terasa di bursa dan nilai tukar. Real Brasil anjlok hampir 3% terhadap dolar AS, sementara saham-saham Brasil di bursa Wall Street mengalami pelemahan.
"Sedangkan di pasar komoditas, harga tembaga melonjak 17% dalam satu hari, menandai kekhawatiran atas pasokan dan gangguan produksi global," paparnya.
Baca Juga: Mensesneg: Prabowo Belum Diagendakan Bertemu Donald Trump
Sementara itu, lanjut Joseph, sebagian negara seperti Filipina dan Sri Lanka, mulai menyiapkan opsi negosiasi ulang atau mencari pasar alternatif. Namun masa tenggat hingga 1 Agustus 2025 yang diberikan Trump dinilai terlalu sempit untuk menyusun strategi mitigasi yang efektif.
Di sisi lain, bagi para pelaku usaha asal AS, ketidakpastian tersebut berbalik menjadi risiko.
“Produsen domestik membutuhkan pasokan bahan baku dan komponen dari luar. Ketika tarif datang tiba-tiba, biaya logistik dan produksi akan melonjak dan memperparah inflasi,” jelasnya.
Dengan negosiasi yang belum menunjukkan titik temu, kebijakan tarif Trump menciptakan situasi yang rentan, bukan hanya bagi negara target, tetapi juga bagi pasar global yang tengah bergulat dengan ketidakpastian geopolitik dan pemulihan pasca-pandemi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit









