Akurat

Indonesia Perluas Ekspor Hadapi Ancaman Tarif Tinggi dari Amerika Serikat

Hefriday | 8 Juli 2025, 14:25 WIB
Indonesia Perluas Ekspor Hadapi Ancaman Tarif Tinggi dari Amerika Serikat

AKURAT.CO Di tengah proses negosiasi terkait kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat (AS), Indonesia terus memperkuat diplomasi dagang global dengan memperluas akses ekspor ke berbagai negara mitra.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperkokoh posisi Indonesia di perdagangan internasional.

"Arahan dari Presiden juga kita berupaya untuk meningkatkan atau memperluas akses pasar luar negeri," ujar Roro usai membuka acara South-South and Triangular Cooperation (SSTC) on Trade and Investment Promotion for African Countries 2025, di Jakarta, Selasa (8/7/2025).

Baca Juga: Kemendag Wacanakan Bea Masuk Untuk Singkong dan Tapioka Impor

Dalam upaya memperluas pasar, Indonesia saat ini aktif menjalin sejumlah perjanjian perdagangan internasional, seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Peru, Kanada, dan Tunisia. Perjanjian-perjanjian ini diharapkan menjadi pintu masuk baru untuk ekspor Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.

"Kita memiliki beberapa perjanjian perdagangan yang sedang dijajaki maupun diselesaikan, yaitu Indonesia–Peru CEPA, kesepakatan dengan Kanada, dan Tunisia. Ini semua untuk memperluas akses pasar ekspor kita," jelas Roro.

Sementara itu, terkait kebijakan tarif sebesar 32% dari Amerika Serikat, Roro menyatakan bahwa pemerintah Indonesia masih menunggu pengumuman resmi dari otoritas AS. Hingga saat ini, proses negosiasi masih berjalan melalui tim dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

"Tim dari Kemenko Perekonomian masih aktif berada di Amerika Serikat untuk memperjuangkan kepentingan Indonesia," ujar Roro.

Dirinya juga menambahkan bahwa Menko Perekonomian Airlangga Hartarto akan segera melakukan kunjungan resmi ke AS usai menghadiri pertemuan BRICS di Brasil. Kunjungan ini menjadi bagian dari diplomasi intensif Indonesia untuk merespons kebijakan dagang AS yang dinilai merugikan ekspor nasional.

Sebelumnya, pada 7 Juli 2025, Presiden AS Donald Trump mengirim surat resmi kepada pimpinan Indonesia, Bangladesh, Kamboja, dan Thailand. Dalam surat tersebut, Trump menyampaikan bahwa mulai 1 Agustus 2025, AS akan memberlakukan tarif baru atas produk ekspor dari keempat negara tersebut.

Baca Juga: Genjot Ekspor, Kemendag Gandeng Lembaga Halal Australia

Indonesia akan dikenai tarif sebesar 32%, sementara Bangladesh 35%, dan Kamboja serta Thailand masing-masing 36%. Trump juga memperingatkan bahwa setiap upaya pembalasan dari negara-negara tersebut akan direspons dengan peningkatan tambahan tarif.

Kebijakan tersebut memicu keprihatinan dari berbagai pihak karena berpotensi mengganggu arus perdagangan Indonesia ke AS. Namun, pemerintah Indonesia memilih pendekatan diplomatik dan tetap terbuka untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog konstruktif.

Wamendag Roro menyebut bahwa langkah perluasan ekspor yang kini sedang digencarkan menjadi bagian dari mitigasi risiko atas dampak kebijakan proteksionis AS. Pemerintah juga terus menjajaki peluang ekspor baru ke kawasan Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

“Diversifikasi pasar ekspor adalah keharusan agar kita tidak terlalu bergantung pada satu mitra dagang,” tegas Roro.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi