Akurat

Reindustrialisasi Jadi Strategi Utama Bappenas Lepas dari Middle Income Trap

Hefriday | 5 Juli 2025, 21:40 WIB
Reindustrialisasi Jadi Strategi Utama Bappenas Lepas dari Middle Income Trap

AKURAT.CO Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya langkah reindustrialisasi sebagai strategi utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan melepaskan diri dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Dalam seminar nasional bertajuk Outlook Industrialisasi Indonesia yang digelar oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025), Rachmat menyebut reindustrialisasi sebagai game changer yang bisa membawa transformasi fundamental bagi perekonomian nasional.

"Kami di Bappenas menilai reindustrialisasi sebagai pengubah permainan yang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pertumbuhan itu, kita ingin keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah," ujar Rachmat.

Baca Juga: Bappenas Gandeng IBC Tarik Investasi Swasta

Dirinya menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak cukup hanya di kisaran 6–8%. Untuk menjawab tantangan pembangunan ke depan, pertumbuhan perlu didorong hingga mencapai dua digit. Hal ini hanya bisa tercapai jika sektor industri manufaktur kembali menjadi tulang punggung ekonomi nasional.

Saat ini, kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di bawah 19%. Rachmat menilai perlu ada upaya serius untuk mengembalikan kontribusi industri ke atas 20 persen, bahkan lebih tinggi dari sebelum krisis moneter 1998.

“Kalau kita ingin industri kita kuat, kontribusinya harus kembali di atas 20 persen. Bahkan lebih tinggi, agar bisa menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja yang berkualitas,” jelasnya.

Rachmat juga mengkritisi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang saat ini didominasi oleh tenaga kerja tidak terampil (unskilled labor) dan berpendidikan rendah. Menurutnya, hal ini berkontribusi terhadap penurunan kualitas pekerjaan dan rendahnya produktivitas nasional.

"Kita menyaksikan adanya pergeseran dari pekerjaan dengan pendapatan tinggi ke pendapatan rendah karena tenaga kerja kita masih belum cukup terdidik dan terampil," paparnya.

Baca Juga: SKK Migas Gandeng Bappenas Genjot Lifting Migas

Sebagai langkah konkret, Bappenas akan memasukkan agenda reindustrialisasi ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Rachmat meminta dukungan dan masukan dari kalangan insinyur melalui PII untuk menyusun strategi yang tepat.

Dirinya menekankan pentingnya membangun keunggulan berbasis potensi domestik atau comparative advantage yang dimiliki Indonesia, agar dalam jangka panjang dapat dikembangkan menjadi competitive advantage yang unggul secara global.

“Reindustrialisasi kita tidak boleh biasa-biasa saja. Kita butuh reindustrialisasi yang luar biasa, yang hebat, dan berbasis pada keunggulan komparatif yang kita miliki. Dengan masuknya para insinyur dan inovator, kita bisa unggul dalam kompetisi global,” tutup Rachmat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi