Produsen Cognac Hindari Bea Masuk China Lewat Strategi Harga Jitu

AKURAT.CO Di tengah arus perang dagang antara China dan Uni Eropa, tiga raksasa industri minuman asal Eropa berhasil menunjukkan kelihaian manuver bisnis mereka.
Remy Cointreau SA, Pernod Ricard SA, dan Hennessy dari konglomerat LVMH lolos dari bea masuk anti-dumping yang diberlakukan China terhadap brendi asal Eropa.
Dikutip dari laman reuters, Bea masuk yang dikenakan mencapai 34,9% dan berlaku selama lima tahun sejak 5 Juli 2025. Namun, berkat kesepakatan harga yang diteken dengan pemerintah China, ketiga produsen ini tidak akan terkena beban tambahan.
Baca Juga: China Peringatkan Negara Berkembang Jangan Jadi Korban Tarif AS
Kesepakatan ini merupakan hasil negosiasi antara asosiasi industri Eropa dan otoritas perdagangan China. Dalam ketentuan tersebut, eksportir bersedia menjaga harga jual di atas batas minimum tertentu, sebagai bentuk antisipasi terhadap praktik dumping. Langkah tersebut dinilai sebagai strategi bertahan di tengah turbulensi geopolitik global.
“Ini bukan hanya urusan bisnis, tapi bagaimana perusahaan multinasional memainkan peran dalam menjaga hubungan ekonomi bilateral,” kata Direktur Eksekutif Institut Kebijakan Perdagangan Internasional (IKPI) Shanghai, Li Xiaoming.
Di sisi lain, analis pasar menilai bahwa kelincahan manuver produsen cognac justru menunjukkan bagaimana sektor swasta dapat meredam potensi konflik dagang yang lebih luas.
Strategi adaptif semacam ini, menurut banyak pengamat, bisa menjadi preseden dalam sektor lain seperti otomotif, fashion, dan makanan premium.
Kinerja saham ketiga perusahaan pun langsung mencerminkan sentimen pasar yang positif. Di Euronext, Remy Cointreau mencatat kenaikan hampir 4% dalam satu hari, menyusul kabar pengecualian tarif.
Baca Juga: Tarif AS Ganggu Daya Saing Ekspor Jepang, Industri Manufaktur Semakin Tertekan
Namun, tidak semua eksportir brendi Eropa seberuntung itu. Produsen kecil yang tak memiliki kapasitas negosiasi global harus menanggung beban tarif penuh. Hal ini dikhawatirkan akan mempersempit pasar mereka di China yang selama ini menjadi pasar penting untuk produk brendi kelas atas.
Sementara itu, Uni Eropa dan China masih melanjutkan diskusi diplomatik. Kunjungan Menteri Luar Negeri China Wang Yi ke Eropa serta rencana pertemuan bilateral yang sempat tertunda menunjukkan bahwa meskipun ada gesekan, kedua belah pihak menyadari pentingnya menjaga stabilitas ekonomi bersama.
Dengan strategi bisnis yang matang dan diplomasi yang berjalan, para produsen cognac memberi pelajaran bahwa fleksibilitas dan kerja sama tetap menjadi kunci di era penuh ketidakpastian geopolitik ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









