KTT ASEAN 2025 Dorong Kemitraan Dagang dengan China dan Negara Teluk

AKURAT.CO Ketidakhadiran Amerika Serikat dan kehadiran penuh pejabat tinggi China serta negara-negara Teluk dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur pada Senin (26/5/2025) menjadi sinyal kuat perubahan orientasi strategis kawasan dari Barat ke Timur.
China, melalui Perdana Menteri Li Qiang, menunjukkan tekad memperdalam hubungan dengan negara-negara ASEAN. Kunjungan beruntun Presiden Xi Jinping ke Vietnam, Malaysia, dan Kamboja beberapa pekan lalu juga memperkuat narasi “keluarga Asia” yang tengah dibangun Beijing.
Pada saat bersamaan, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mulai mengambil peran lebih aktif dalam kemitraan ekonomi lintas kawasan. Hal ini terlihat dari hadirnya seluruh anggota GCC di KTT, sebuah pemandangan yang jarang terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Hadiri KTT BIMP–EAGA, Fokus Kerja Sama Kawasan Timur ASEAN
Dikutip dari laman Bloomberg, nilai perdagangan ASEAN dan China pada 2024 tercatat hampir dua kali lipat dibanding dengan Amerika Serikat, dimana sebesar USD982,3 miliar, dibandingkan dengan USD476,8 miliar untuk perdagangan dengan AS. Angka itu menjadi fondasi klaim dominasi ekonomi Beijing di Asia Tenggara.
“Realitasnya, China sudah menjadi mitra dagang utama bagi sebagian besar negara ASEAN. Hubungan ini terlalu besar untuk dihindari,” ujar ekonom Universitas Malaya, Prof. Abdul Rahman Hashim.
Di sisi lain, absennya pejabat tinggi AS dalam pertemuan ini menyisakan kekosongan diplomatik yang mencolok. Padahal, saat ini negara-negara ASEAN tengah mengupayakan negosiasi ulang untuk menghindari dampak kenaikan tarif impor dari Trump.
Langkah ini kontras dengan respons China yang justru memperluas cakupan kemitraan, termasuk UMKM, teknologi hijau, hingga kerja sama ekonomi digital. Revisi perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China yang diumumkan pekan lalu menjadi salah satu langkah konkret yang diambil Beijing.
Indonesia juga turut mengukuhkan poros alternatif dengan bergabung secara penuh dalam BRICS, blok negara berkembang yang didukung China dan Rusia. Malaysia dan Vietnam pun dikabarkan tengah menjajaki opsi serupa dengan status mitra.
Baca Juga: Ikut Sesi Retreat KTT ke-46 ASEAN, Prabowo Bahas Isu Myanmar dan Stabilitas Kawasan
Meski begitu, beberapa analis menilai masih terlalu dini menyimpulkan bahwa ASEAN sepenuhnya berbalik arah.
“Ini bukan soal memilih China atau Amerika. Ini tentang bertahan di tengah dunia yang semakin multipolar,” kata Shahriman Lockman.
Satu hal yang pasti, menurut Wakil PM Singapura Gan Kim Yong, ASEAN harus memperkuat kerja sama internal untuk menghadapi dinamika global. “Bersatu atau dilupakan. Itulah pilihannya,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










