Tarif 50% AS untuk Uni Eropa Ancam Industri Otomotif dan Rantai Pasok Global

AKURAT.CO Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap barang-barang dari Uni Eropa dinilai dapat mengguncang stabilitas rantai pasok global, terutama di sektor otomotif dan industri berat.
Kebijakan sepihak ini dikhawatirkan akan memicu gelombang pembalasan dagang yang memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Trump mengumumkan kebijakan tersebut melalui unggahan di media sosial pribadinya, Jumat (23/5/2025) waktu setempat. Trump menyebut bahwa Uni Eropa sulit diajak bekerja sama dan negosiasi yang berlangsung selama ini tidak menghasilkan kesepakatan yang berarti.
“Sikap keras Trump merupakan ancaman serius bagi stabilitas rantai pasok lintas negara, khususnya sektor otomotif yang sangat tergantung pada komponen dan produksi lintas benua,” ucap Analis perdagangan internasional dari Atlantic Council, Paul Henning dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: Imbas Tarif Trump, ICP April 2025 Turun ke USD65,29 per Barel
Menurut data Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), total nilai ekspor otomotif Uni Eropa ke AS mencapai lebih dari USD60 miliar pada 2024. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Italia menjadi eksportir utama kendaraan dan suku cadang ke pasar AS.
Sebagai respons, Uni Eropa telah menyiapkan daftar balasan tarif terhadap barang-barang dari AS senilai lebih dari USD100 miliar.
Jika tarif ini benar-benar diberlakukan, tidak hanya pabrikan besar seperti Volkswagen dan BMW yang terdampak, tetapi juga jaringan usaha kecil-menengah yang menjadi pemasok komponen.
Kepala Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic dalam pernyataan resminya menyebut ancaman tarif ini sebagai “tidak proporsional” dan bertentangan dengan semangat kemitraan transatlantik.
“Jika ini menjadi awal dari perang dagang, maka yang paling menderita adalah para pekerja dan konsumen di kedua belah pihak,” ujar Sefcovic.
Baca Juga: Trump Ancam Kenakan Tarif Tinggi hingga 25 Persen untuk iPhone, Kenapa?
Sementara itu, para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa menjadi sinyal berbahaya bagi pelaku pasar dan investor, terutama menjelang tahun pemilu di AS.
“Ketidakpastian kebijakan luar negeri AS terus meningkat, dan ini membuat investor global menahan ekspansi,” ujar Kepala Riset Morgan Securities Asia, Linda Kao.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









