Akurat

Perang Dagang China-AS Mulai Mereda, Pasar Obligasi Global Malah Terguncang?

Demi Ermansyah | 13 Mei 2025, 12:15 WIB
Perang Dagang China-AS Mulai Mereda, Pasar Obligasi Global Malah Terguncang?

AKURAT.CO Keputusan Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif perdagangan memberikan dampak signifikan terhadap pasar keuangan global, terutama instrumen utang. Obligasi pemerintah AS mengalami tekanan jual, menyusul berkurangnya permintaan akibat ekspektasi ekonomi yang membaik dan pergeseran sentimen investor ke aset berisiko.

Pada Senin (12/5/2025) lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun naik 12 basis poin menembus angka 4%, ini merupakan kenaikan signifikan dalam waktu singkat dan mencerminkan pergeseran besar dalam pandangan investor terhadap arah kebijakan suku bunga dan prospek ekonomi AS pasca pengurangan tarif.

Langkah pelonggaran tarif oleh dua ekonomi terbesar dunia ini dinilai sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap pertumbuhan global akan mereda. Hal ini pun mendorong investor untuk keluar dari aset yang dianggap aman seperti obligasi, dan beralih ke saham dan komoditas berisiko tinggi.

Baca Juga: Jepang Siapkan Strategi Baru Hadapi Tarif AS, Obligasi AS Jadi Kartu Tawar?

"Kesepakatan ini bisa menjadi game changer, sebab saat ini investor melihat adanya potensi pemulihan perdagangan global dan peningkatan permintaan domestik di antara kedua negara tersebut,” ucap Ekonom senior dari Bank of America Securities, James Thornton dikutip dari laman reuters.

Lebih lanjut James menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi menandakan harga obligasi yang menurun karena tekanan jual.

"Tentunya hal ini mencerminkan ketidakpastian baru, apakah The Fed akan tetap menurunkan suku bunga di tengah potensi pemulihan ekonomi dan inflasi yang bisa meningkat kembali," katanya kembali.

Di sisi lain, pendekatan hati-hati yang disuarakan Gubernur The Fed Jerome Powell menambah dimensi baru bagi pasar. Powell menyatakan bahwa The Fed akan menilai secara cermat dampak tarif terhadap inflasi sebelum mengambil langkah agresif.

Reaksi pasar menunjukkan bahwa investor kini lebih skeptis terhadap kemungkinan pelonggaran moneter dalam waktu dekat. Dalam sepekan terakhir, pasar mengalami revisi tajam terhadap perkiraan jumlah pemangkasan suku bunga dari empat kali menjadi dua kali, seiring semakin solidnya indikator ekonomi makro AS.

Baca Juga: Kepemilikan Asing Tak Dominan, Pasar Obligasi RI Masih Stabil

Perubahan ini tentu berdampak pada strategi portofolio investor institusional. Beberapa pengelola dana kini lebih memilih untuk menjual obligasi jangka pendek.

Menurut Pakar Ekonomi Strategis dari Columbiar Threaneedle, Ed Al-Hussainy mengatakan bahwa perusahaannya memperkirakan harga obligasi dua tahun, baru akan menarik jika pasar hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga atau bahkan tidak sama sekali.

“Imbal hasil akan terus naik jika ekspektasi penurunan suku bunga melemah. Ini akan jadi tahun yang menantang bagi investor fixed income,” ujarnya.

Pasar opsi juga menunjukkan meningkatnya taruhan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap pada level saat ini sepanjang 2025. CME Group mencatat lonjakan minat terhadap opsi put, yang mencerminkan ketidakpercayaan pasar bahwa The Fed akan agresif memangkas suku bunga.

Di tengah pergeseran dinamika ini, bank-bank besar seperti Citigroup masih mempertahankan pandangan bahwa pelonggaran akan tetap dilakukan, meskipun dengan waktu yang lebih lambat. Citi memperkirakan pemangkasan akan dimulai pada Juli, dengan total pelonggaran 125 basis poin hingga awal 2026.

Namun, pasar saat ini tidak sepenuhnya sejalan dengan proyeksi tersebut. Banyak investor justru memposisikan diri untuk menghadapi skenario di mana The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.