Akurat

Trump Tolak Turunkan Tarif Impor China, De-eskalasi Perang Dagang Terancam Mandek

Demi Ermansyah | 8 Mei 2025, 12:05 WIB
Trump Tolak Turunkan Tarif Impor China, De-eskalasi Perang Dagang Terancam Mandek

AKURAT.CO Presiden Donald Trump pada Rabu (7/5/2025) lalu menyatakan bahwa dirinya tidak akan membatalkan tarif impor sebesar 145% atas produk dari China sebagai bentuk konsesi untuk memulai pembicaraan perdagangan dengan Beijing. Hal ini disampaikannya saat menghadiri pelantikan David Perdue sebagai Duta Besar AS untuk China.

Dikutip dari laman reuters, pernyataan Trump muncul hanya beberapa hari sebelum rencana pertemuan antara Menteri Keuangan AS, Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer dengan Wakil Perdana Menteri China, He Lifeng di Swiss. Pertemuan tersebut merupakan negosiasi resmi pertama sejak peningkatan tajam tarif antara kedua negara.

"AS tidak pernah mengajukan permintaan negosiasi terlebih dahulu. Jika ada yang mengatakan begitu, mereka harus mempelajari dokumen mereka kembali," ujar Trump menanggapi pernyataan Kementerian Perdagangan China yang menyebutkan bahwa AS telah menghubungi pihaknya terlebih dahulu.

Baca Juga: Tarif Trump Buka Peluang Ekspor RI ke BRICS dan TPP

Usut punya usut, sikap Trump dianggap memperlebar jurang perbedaan antara AS dan China dalam hal tarif, meski di saat bersamaan, Menteri Keuangan Bessent menyampaikan dalam wawancara dengan Fox News bahwa strategi yang ia bawa lebih berfokus pada de-eskalasi ketegangan, bukan pada kesepakatan besar jangka panjang.

"Kami tidak ingin memisahkan diri dari China, yang kami inginkan adalah perdagangan yang adil," ujar Bessent.

Sementara itu, data ekonomi menunjukkan tekanan yang dihadapi kedua negara. Perekonomian AS mengalami kontraksi untuk pertama kali sejak 2022, sementara sektor manufaktur China kembali mencatatkan kinerja terburuk sejak Desember 2023.

Baca Juga: Tarif Trump Jadi Momen Pengusaha Untuk Berinovasi

Meski Trump mengklaim bahwa kebijakan tarifnya menguntungkan AS dan menekan defisit perdagangan, sejumlah jajak pendapat menunjukkan mayoritas masyarakat AS tidak menyetujui pendekatannya terhadap isu perdagangan dan ekonomi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.