Dampak Global Kebijakan Moneter China, Stabilkan Ekonomi atau Malah Tambah Risiko?

AKURAT.CO China baru saja mengumumkan pemangkasan suku bunga kebijakan untuk kedua kalinya dalam waktu singkat, dalam upaya untuk menghadapi dampak yang semakin berat dari perang dagang dengan Amerika Serikat.
Gubernur People’s Bank of China, Pan Gongsheng, mengungkapkan bahwa suku bunga 7-day reverse repurchase rate dipangkas menjadi 1,4%, turun dari 1,5%. Langkah ini sejalan dengan keputusan bank sentral untuk menurunkan rasio giro wajib minimum (GMW), sebuah upaya untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Langkah-langkah ini diambil di tengah tekanan berat dari AS yang memberlakukan tarif hingga 145% pada barang-barang impor China, yang telah memicu ketidakstabilan perdagangan bilateral antara kedua negara.
Dengan meningkatnya ketegangan dalam perdagangan internasional, Beijing tidak hanya berfokus pada pengurangan beban ekonomi domestik, tetapi juga pada stabilitas pasar global.
Baca Juga: IMF Dorong Bank Sentral di Asia Turunkan Suku Bunga
Suku bunga yang lebih rendah dan pemotongan rasio cadangan bank adalah langkah klasik yang diambil oleh bank sentral untuk merangsang perekonomian yang lesu. China, yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, kini menghadapi tantangan besar akibat perang dagang dengan AS.
Meskipun pemerintah China telah berusaha meningkatkan konsumsi domestik dan mendiversifikasi ekonomi, dampak langsung dari tarif yang diberlakukan AS tetap tidak bisa dihindari.
"Tarif yang tinggi telah menciptakan ketegangan yang merusak hubungan ekonomi antara AS dan China, dan dampaknya terasa di seluruh dunia," kata Pan Gongsheng dikutip dari laman CGTN.
Oleh karena itu, keputusan untuk memangkas suku bunga dan mengurangi rasio cadangan adalah sinyal dari Beijing bahwa pemerintah akan terus bertindak untuk meredakan ketegangan ekonomi, meskipun hasil dari kebijakan ini masih akan bergantung pada situasi perang dagang yang terus berkembang.
Sebagai tambahan dari pemangkasan suku bunga, People’s Bank of China juga mengumumkan rencana untuk menambah dana pinjaman ulang untuk sektor-sektor yang membutuhkan perhatian lebih.
Alokasi dana sebesar CNY500 miliar akan digunakan untuk sektor konsumsi dan perawatan lansia, dua sektor yang penting untuk stabilitas sosial dalam jangka panjang.
Baca Juga: Tarif Tinggi Perdagangan AS-China Ancam Konsumen dan Industri, Trump Janjikan Peninjauan
Selain itu, sektor teknologi dan usaha kecil dan menengah juga akan mendapatkan suntikan dana pinjaman senilai CNY300 miliar untuk membantu mengatasi krisis yang disebabkan oleh ketegangan dagang ini.
Sektor-sektor tersebut telah menjadi pendorong penting bagi ekonomi China, dan upaya untuk mengamankan kelangsungan hidup mereka dalam kondisi yang sulit adalah langkah yang sangat dibutuhkan untuk menjaga ketahanan ekonomi negara.
Di tingkat global, kebijakan China untuk memangkas suku bunga akan memiliki dampak yang cukup signifikan. Pasar global, yang sudah terhantam oleh ketidakpastian perang dagang, akan terus dipengaruhi oleh keputusan-keputusan yang diambil oleh Beijing.
Namun, para analis memprediksi bahwa pemangkasan suku bunga dan langkah-langkah stimulus lainnya yang dilakukan China dapat membantu menstabilkan pasar dalam jangka pendek.
Untuk negara-negara yang sangat bergantung pada stabilitas perdagangan global, seperti Indonesia, keputusan China ini dapat memberikan sedikit angin segar meskipun masih ada risiko besar dari kebijakan tarif AS yang lebih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









