Akurat

Kadin Dorong Pemanfaatan CEPA untuk Perkuat Posisi RI di Rantai Pasok Global

Hefriday | 6 Mei 2025, 11:35 WIB
Kadin Dorong Pemanfaatan CEPA untuk Perkuat Posisi RI di Rantai Pasok Global

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional secara maksimal.

Dalam diskusi bertajuk Optimalisasi CEPA dan Perjanjian Perdagangan Internasional Pasca-Liberation Day yang digelar di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, para pemangku kepentingan berdiskusi mengenai strategi untuk memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan nilai global.

Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Perjanjian Internasional Kadin Indonesia, Pahala N. Mansury, mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini memiliki hampir 26 perjanjian perdagangan internasional, termasuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan berbagai negara. Namun, menurutnya, belum semua perjanjian dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha.

“Kita harus memiliki mindset untuk menjadikan Indonesia bagian dari global supply chain atau rantai pasok produksi dunia,” ujar Pahala dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (6/5/2025).

Baca Juga: Gandeng Kadin AS, Kadin Indonesia Siap Perkuat Hubungan Dagang dan Investasi Bilateral

Dirinya menekankan bahwa negara-negara yang telah menjalin CEPA umumnya langsung mengambil posisi strategis dalam sistem produksi mitra dagangnya.

Pahala juga menyampaikan bahwa salah satu langkah penting dalam mengoptimalkan CEPA adalah dengan meningkatkan pemahaman pelaku usaha mengenai peluang yang bisa dimanfaatkan. Kadin, kata dia, siap menjadi jembatan dalam mengedukasi pelaku usaha nasional agar lebih aktif dalam jaringan dagang global.

Menanggapi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat hanya 4,87% pada kuartal pertama 2025, Pahala mengaku tetap optimistis.

Dirinya menyebut bahwa program deregulasi dan debirokratisasi yang dicanangkan pemerintah dapat menjadi pendorong bagi peningkatan investasi dan ekspor bersih dalam jangka menengah.

“Kalau kita bandingkan dengan negara lain, posisi kita masih cukup baik. Dan kami yakin, dalam tiga triwulan ke depan, pertumbuhan ekonomi kita masih berpotensi menguat,” ujarnya.

Baca Juga: Kadin Usulkan Skema Kemitraan Dagang Preferensial Indonesia-AS untuk Produk Garmen

Dalam kesempatan tersebut, Pahala juga menanggapi kritik terkait proses negosiasi perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat yang dinilai sebagian pihak terlalu lunak.

Ia menegaskan bahwa proses tersebut merupakan peluang strategis, mengingat AS hanya menyumbang sekitar 10-12% terhadap total perdagangan dunia.

“Artinya masih ada 88 persen peluang dari negara-negara lain yang bisa kita eksplorasi dan maksimalkan. Kita tidak boleh hanya terpaku pada satu mitra dagang,” tegasnya.

Diskusi tersebut turut menghadirkan pandangan dari Senior Advisor Boston Consulting Group (BCG), Andrew Cainey, yang menyoroti pentingnya inovasi di tengah dinamika global. Ia mengatakan bahwa globalisasi tetap berlangsung, meskipun dalam bentuk yang lebih kompleks, dan Indonesia perlu menyiapkan diri agar tak tertinggal.

“Konsep China Plus One membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam rantai pasok global. Ini saatnya kita perkuat posisi,” tutur Andrew.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, menegaskan bahwa CEPA tidak hanya soal peningkatan ekspor. Menurutnya, CEPA juga penting untuk memperkuat investasi, sektor jasa, pembangunan ekonomi, dan daya saing Indonesia secara menyeluruh.

“CEPA harus dimanfaatkan secara intensif dan komprehensif agar benar-benar memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional,” ujar Yose.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi