Tarif Trump Jadi Momen Pengusaha Untuk Berinovasi
Hefriday | 30 April 2025, 23:17 WIB

AKURAT.CO Dunia usaha Indonesia dinilai semakin siap menghadapi tekanan ekonomi global, termasuk dampak dari kebijakan tarif proteksionis Amerika Serikat.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro dan Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Aviliani, dalam seminar bertajuk “Kebijakan Tarif Trump dan Langkah Indonesia di Masa Depan” yang digelar di Perbanas Institute, Jakarta.
Aviliani menekankan bahwa krisis global tidak seharusnya dilihat hanya sebagai ancaman. Menurutnya, pelaku usaha harus menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk berinovasi dan memperkuat daya saing nasional.
"Pengusaha Indonesia harus memandang krisis bukan hanya sebagai ancaman, tetapi sebagai momentum untuk berinovasi," tegas Avi dalam keterangannya, Rabu (30/4/2025).
Avi yang juga merupakan dosen di STIE Perbanas menyampaikan pentingnya kolaborasi antara tiga pilar utama akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah dalam menyusun strategi jangka panjang menghadapi tantangan ekonomi global.
Ia menilai, kerja sama lintas sektor merupakan fondasi yang diperlukan untuk menciptakan kebijakan yang adaptif dan tahan banting.
Merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Avi menyebut bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipatif dengan membentuk komite gabungan.
Komite ini melibatkan perwakilan dari kalangan pemerintah, akademisi, dan dunia usaha untuk mengidentifikasi hambatan perdagangan dan mendorong deregulasi sebagai upaya memperkuat ekspor dan investasi nasional.
"Insentif fiskal dan non-fiskal, seperti subsidi bunga serta pengurangan pajak, terbukti mampu membantu pelaku usaha bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan global," jelas Avi.
Avi juga menyoroti peran penting riset industri dari lembaga akademik yang menjadi dasar penyusunan strategi bisnis berbasis data dan kebutuhan pasar.
Avi mengingatkan bahwa dengan tren menurunnya kerja sama multilateral dan menguatnya bilateralisme, pengusaha Indonesia perlu memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional. Beberapa di antaranya adalah RCEP, TIFA, EU-CEPA, dan Turki CEPA.
“Diversifikasi produk dan eksplorasi pasar non-tradisional menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada AS dan China,” tuturnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya digitalisasi dan adopsi teknologi sebagai penopang efisiensi dan ekspansi pasar.
Menurutnya, mengikuti tren teknologi dan memahami kebutuhan konsumen merupakan kunci agar pelaku usaha tetap relevan di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Lebih jauh, Avi menyoroti perlunya sinergi lintas sektor dalam menghadapi dinamika global yang kini tak hanya bersumber dari fluktuasi ekonomi dan energi, tetapi juga ketegangan geopolitik serta perubahan demografi.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dengan terus meningkatnya jumlah penduduk usia produktif, yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pasar domestik.
“Diplomasi ekonomi yang aktif, reformasi kebijakan, dan riset berkelanjutan adalah tiga pilar utama dalam menciptakan iklim usaha yang kompetitif,” imbuh Avi. Ia juga menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan memperkuat kolaborasi yang saling mendukung.
Seminar yang diselenggarakan atas kerja sama Kadin Indonesia, Perbanas Institute, Kampus Merdeka, dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) itu turut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai institusi.
Di antaranya adalah Rektor Perbanas Institute Hermanto Siregar, Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Kemendag RI Olvy Andrianita, dan Staf Ahli Kementerian Keuangan Arif Wibisono.
Selain itu, hadir pula perwakilan asosiasi industri dan akademisi seperti Ian Syarif Tan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Sahara dari IPB University, serta Tifa Noer Amelia dan Dyah Nirmalawati dari Perbanas Institute.
Menutup paparannya, Aviliani mengajak para pelaku usaha untuk terus bergerak maju dengan strategi yang tepat dan semangat kolaborasi.
"Sekarang adalah saatnya bagi pengusaha Indonesia untuk maju dengan strategi yang tepat, inovasi berkelanjutan, dan semangat kerja sama yang kuat. Tantangan global dapat menjadi peluang jika kita mampu bersatu dan bertindak cepat," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










