Akurat

Ketegangan Trump - The Fed, Independensi Bank Sentral Dipertanyakan?

Demi Ermansyah | 23 April 2025, 13:35 WIB
Ketegangan Trump - The Fed, Independensi Bank Sentral Dipertanyakan?

AKURAT.CO Ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Gubernur The Fed Jerome Powell kembali mencuat, menyusul kritik terbuka presiden yang menuntut pemangkasan suku bunga lebih cepat.

Meski Trump menyatakan tidak berniat memecat Powell, pengamat memperingatkan bahwa serangan verbal berulang dapat menggerus independensi Federal Reserve sebagai institusi keuangan tertinggi di AS.

“Tidak pernah,” jawab Trump ketika ditanya apakah ia berniat memecat Powell. Namun, komentar tersebut tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran publik dan pasar atas tekanan politik terhadap The Fed.

“Kami hanya ingin dia bertindak lebih aktif,” ujar Trump.

Baca Juga: Prabowo dan Wakil PM Malaysia Bahas Tarif Trump hingga Kemerdekaan Palestina

Pernyataan tersebut semakin mempertegas frustrasi Gedung Putih atas kebijakan moneter yang cenderung berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan inflasi.

Sebelumnya, Bank Sentral Eropa mengambil langkah drastis dengan menurunkan suku bunga acuan menjadi 2,25%.

Langkah ini tampaknya menjadi titik perbandingan bagi Trump dalam menilai kinerja Powell. Trump menyayangkan bahwa The Fed, menurutnya, selalu bergerak terlambat.

Komentar presiden itu, meski tak disertai tindakan konkret, cukup untuk mengguncang pasar. Dalam sepekan terakhir, muncul volatilitas tinggi di pasar obligasi. Meski pada Selasa pasar mulai stabil, para pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan campur tangan politik lebih jauh dalam kebijakan moneter.

“Jika setiap keputusan The Fed harus menyenangkan presiden, maka independensinya hanya tinggal nama, tentunya hal itu akan berdampak buruk jangka panjang terhadap kredibilitas The Fed di mata global," ujar Analis pasar dari Citigroup, Paul Kim.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pada 2018 dan 2019, Trump juga pernah melontarkan ketidakpuasan terhadap Powell, meski saat itu tidak sampai pada wacana pemecatan.

Baca Juga: Ketua Komisi IV Soroti Minimnya Anggaran KKP di Tengah Tarif Trump

Kini, situasi serupa muncul kembali, tapi dengan tekanan lebih besar mengingat posisi pasar keuangan yang rapuh dan situasi politik menjelang pemilu.

Di tengah isu tersebut, Gedung Putih mencoba menenangkan pasar dengan mengumumkan bahwa kemajuan dalam perundingan dagang telah dicapai.

Namun, pernyataan tersebut belum cukup meyakinkan bahwa arah kebijakan ekonomi AS tidak sedang digerakkan oleh tekanan politik semata.

Sejumlah akademisi dan mantan pejabat The Fed menyerukan pentingnya menjaga garis pembatas antara otoritas eksekutif dan lembaga moneter.

“Mengkritik itu hak presiden. Tapi, mengintervensi adalah garis merah,” kata mantan Gubernur The Fed, Janet Yellen, dalam wawancara terbaru dengan Bloomberg.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.