IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 2,8 Persen, Ini Biang Keroknya!

AKURAT.CO Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global hanya akan mencapai 2,8% pada 2025 atau turun 0,5% dari perkirakaan pada Januari 2025 lalu.
Tak hanya itu, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 juga diperkirakan hanya akan sebesar 3%, turun dari 3,3% pada proyeksi Januari 2025.
Kedua hal itu tercantum dalam dokumen World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025 yang diterbitkan pada Selasa (22/4/2025).
Baca Juga: Trump Dianggap Ancam Stabilitas Ekonomi Global, Prancis Soroti Gaya Kepemimpinan Sepihak
Pertumbuhan ekonomi di negara maju diproyeksikan sebesar 1,4% pada tahun 2025.
"Pertumbuhan di Amerika Serikat diperkirakan melambat menjadi 1,8 persen, laju yang 0,9 poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi dalam Pembaruan WEO Januari 2025, karena ketidakpastian kebijakan yang lebih besar, ketegangan perdagangan, dan momentum permintaan yang lebih lemah, sedangkan pertumbuhan di kawasan euro sebesar 0,8 persen diperkirakan melambat sebesar 0,2 poin persentase," demikian dikutip Akurat.co dari laporan IMF, Rabu (23/4/2025).
Kemudian di negara berkembang, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 3,7% pada tahun 2025 dan 3,9% pada tahun 2026, dengan penurunan terbesar di negara-negara terdampak tarif Trump, terutama China.
IMF juga memperkirakan inflasi global akan menurun pada laju yang sedikit lebih lambat dari yang diperkirakan pada bulan Januari, yaitu 4,3% pada tahun 2025 dan 3,6% pada tahun 2026.
Lebih lanjut IMF mengungkapkan risiko ekonomi global ke depan akan didominasi oleh meningkatnya perang dagang, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang lebih tinggi, yang kemudian semakin mengurangi pertumbuhan jangka pendek dan jangka panjang.
Sementara penyangga kebijakan yang terkikis melemahkan ketahanan terhadap guncangan di masa mendatang.
Baca Juga: Asuransi Jasindo Cetak Kinerja Gemilang di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Sikap kebijakan yang berbeda dan berubah dengan cepat atau sentimen yang memburuk, dinilai dapat memicu penetapan harga ulang aset tambahan di luar apa yang terjadi setelah pengumuman tarif AS yang luas pada tanggal 2 April dan penyesuaian tajam dalam nilai tukar mata uang asing dan arus modal, terutama untuk ekonomi yang sudah menghadapi tekanan utang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 4Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 5Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja








