Jatuhkan Tarif Hingga 245% Ke China, Akankah AS Ingin Mengulang Jejak Great Depression?

AKURAT.CO Langkah agresif Amerika Serikat yang bru-baru ini memberlakukan tarif hingga 245% terhadap impor asal China bukan hanya menjadi babak baru dalam tensi perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, tetapi juga memicu kekhawatiran atas potensi efek domino terhadap stabilitas ekonomi global.
Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif besar-besaran tersebut sebagai langkah untuk melindungi industri dalam negeri dari “praktik perdagangan tidak adil” yang diklaim dilakukan China.
Namun, para pengamat ekonomi menilai bahwa keputusan ini bisa memicu dampak jangka panjang yang tidak hanya menyasar China, tetapi juga menyasar negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Usut punya usut, langkah tersebut merupakan salah satu bentuk kebijakan proteksionisme terbesar sejak era Donald Trump yang juga dikenal dengan kebijakan tarif kerasnya terhadap Beijing.
Namun kali ini, fokus utama berada pada industri kendaraan listrik (EV), semikonduktor, dan panel surya, tiga sektor strategis yang disebut sebagai masa depan industri global.
Baca Juga: Terimbas Tarif Trump, ICP Maret 2025 Turun ke USD71,11 per Barel
Dikutip dari laman Reuters, pemerintah AS menyatakan bahwa produk-produk asal China diduga menerima subsidi besar-besaran dari pemerintahnya, membuat harga produk jauh di bawah harga pasar global, dan menciptakan kompetisi yang tidak sehat terhadap produsen dalam negeri.
Namun, kebijakan tarif ini tidaklah terjadi dalam ruang hampa. Dalam sejarah, tindakan proteksionis yang dilakukan negara adidaya hampir selalu menimbulkan reaksi berantai.
Sebagai contoh Salah yakni Smoot-Hawley Tariff Act pada 1930 yang memperparah dampak Great Depression. Jika dikaitkan dengan keadaan saat ini, maka perang dagang AS-China telah berjalan lebih dari lima tahun dan terus menunjukkan eskalasi, menggerus stabilitas perdagangan global dan memperkeruh arus rantai pasok internasional.
Sebab, dikala dua ekonomi terbesar di dunia saling mengenakan tarif, bukan hanya mereka yang merugi, tetapi seluruh dunia pun ikut terkena imbasnya.
Salah satunya Indonesia, sebagai negara berkembang dengan perekonomian terbuka memiliki potensi terdampak cukup signifikan. Dari sisi ekspor, Indonesia cukup bergantung pada permintaan global, terutama dari China dan AS.
China merupakan mitra dagang utama Indonesia, sedangkan AS adalah salah satu pasar ekspor terbesar. Jika ketegangan ini terus memanas, ada kemungkinan besar bahwa permintaan dari kedua negara tersebut akan melambat akibat meningkatnya ketidakpastian bisnis dan biaya produksi yang membengkak karena tarif.
Selain itu, investor global juga cenderung menarik diri dari pasar negara berkembang saat volatilitas global meningkat. Hal ini bisa menyebabkan depresiasi nilai tukar rupiah, tekanan terhadap neraca pembayaran, serta arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi domestik.
Baca Juga: Trump Naikkan Tarif Impor China Jadi 245 Persen, Resesi Global Mengintai!
Bahkan, menurut Ekonom Bloomberg, David Qiu memperingatkan aksi saling balas tarif tersebut tentunya hanya akan bepotensi terjadinya stagflasi di negara berkembang apabila perang dagang ini merambat ke sektor-sektor strategis lain yang berdampak pada harga pangan dan energi.
Kekhawatiran tersebut pun diperparah oleh potensi retaliasi dari pihak China. Beijing bisa saja mengenakan tarif balasan terhadap produk AS, atau mengambil langkah taktis lainnya seperti memperlambat ekspor bahan baku penting seperti logam tanah jarang (rare earth elements) yang menjadi komponen vital dalam industri teknologi global.
"Bila ini terjadi, tekanan terhadap rantai pasok dunia bisa semakin intens, dan negara-negara seperti Indonesia yang berada dalam posisi sebagai pemasok maupun importir bahan baku industri akan terjepit di tengah perang dua raksasa," ucapnya.
Dalam skenario terburuk, ketegangan perdagangan ini bisa mendorong terciptanya blok-blok ekonomi baru yang saling mengisolasi. Jika itu terjadi, globalisasi yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan dunia pasca Perang Dunia II akan mengalami kemunduran besar.
Dengan negara-negara berkembang yang belum memiliki kapasitas industri mumpuni atau ketahanan ekonomi yang kuat tentu akan terkena dampak paling signifikan.
Sejarah telah menunjukkan bahwa krisis besar tidak hanya melanda negara-negara pemicu konflik, tetapi juga menyapu seluruh dunia dan Indonesia bukan pengecualian.
Potensi atau Ancaman Bagi Indonesia?
Namun demikian, di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia juga memiliki peluang strategis. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong hilirisasi industri dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Ketegangan AS-China bisa membuka peluang Indonesia untuk menjadi alternatif dalam rantai pasok global, khususnya dalam sektor EV dan mineral kritis seperti nikel dan kobalt. Jika dikelola dengan baik, Indonesia dapat menarik investor dari negara-negara yang ingin memindahkan produksinya dari China.
Selain itu, diplomasi ekonomi Indonesia perlu diperkuat agar tidak terjebak dalam konflik kepentingan antara AS dan China. Pemerintah perlu memperluas perjanjian dagang regional dan bilateral, serta mempercepat penguatan sektor manufaktur dan teknologi.
Diversifikasi mitra dagang dan reformasi struktural di dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam perang dagang global ini, tetapi mampu mengambil posisi strategis yang menguntungkan.
Bagaimana Kedepannya?
Meskipun belum dapat dipastikan apakah perang dagang AS-China saat ini akan berujung pada krisis global seperti Great Depression, potensi efek domino terhadap ekonomi dunia sangat nyata.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan memperkuat fondasi ekonomi domestik dan mengadopsi strategi diplomasi ekonomi yang cermat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









