BNPB Kerahkan 12.285 Personel dan 7 Helikopter Tangani Karhutla Sumsel

AKURAT.CO Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengerahkan 12.285 personel gabungan dan tujuh helikopter.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemadaman darat, operasi udara menggunakan teknik water bombing, patroli udara, serta pemantauan cuaca untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala BNPB, Suharyanto, memimpin langsung rapat evaluasi penanganan karhutla di Posko Utama Satgas Karhutla, Kantor BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026).
Rapat digelar untuk mengevaluasi kondisi terkini sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.
"Tadi kami baru mendarat dari Kaltim langsung bertolak ke Sumsel, ini merupakan bentuk nyata bahwa pemerintah hadir langsung untuk melakukan evaluasi demi percepatan penanganan karhutla di sini," kata Suharyanto.
Berdasarkan data koordinasi penanganan karhutla per 15 September 2026, tercatat 1.737 titik panas atau hotspot di Sumsel. Dari pemantauan tersebut, ditemukan 20 titik api atau fire spot dengan estimasi luas mencapai 404,22 hektare.
Dari total luasan tersebut, sekitar 319,97 hektare telah ditangani. Rinciannya, 289,97 hektare dipadamkan melalui Satgas Darat dan sekitar 30 hektare melalui operasi udara water bombing. Sementara 84,25 hektare masih dalam proses penanganan.
Sejumlah wilayah menjadi prioritas penanganan, terutama daerah yang memiliki kawasan gambut dan lahan yang rawan terbakar.
Di antaranya Kabupaten Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang.
Sebanyak 12.285 personel gabungan yang terlibat terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Kelompok Tani Peduli Api (KTPA), Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga tim pemadam dari sejumlah perusahaan.
Sementara itu, tujuh helikopter dikerahkan untuk mendukung patroli udara dan pemadaman melalui water bombing.
Operasi udara diprioritaskan di lokasi dengan kobaran api besar, kawasan gambut dalam, serta wilayah yang berpotensi mengalami penyebaran kebakaran dengan cepat.
Dari sekitar 88 hektare area yang menjadi sasaran operasi udara, sekitar 30 hektare telah berhasil dipadamkan.
Namun, kondisi cuaca masih menjadi kendala. Operasi Modifikasi Cuaca belum dapat dilakukan karena belum terbentuk awan hujan yang memadai. Kondisi tersebut juga menyebabkan jarak pandang di sekitar titik api menurun akibat kabut asap.
Baca Juga: Tutup Celah Kecurangan, Pemerintah Diminta Hapus Beras Fortifikasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







