AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (18/3/2025) ditutup melemah signifikan sebesar 3,84% atau turun 250 poin ke level 6.223. Bahkan, pada sesi perdagangan sebelumnya, IHSG sempat anjlok lebih dari 5%, mencerminkan tekanan besar di pasar modal domestik.
Menurut Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, sebagian besar sektor saham mengalami koreksi tajam. Saham sektor teknologi memimpin pelemahan dengan penurunan sebesar 9,77%, diikuti sektor material dasar yang turun 5,99%, sektor energi turun 3,43%, dan sektor keuangan terkoreksi 1,98%.
“Koreksi di IHSG terjadi di tengah kondisi pasar saham Amerika Serikat (AS) yang justru bergerak positif serta bursa saham Asia yang cenderung berada di zona hijau,” ungkap Josua, saat dihubungi Akurat.co, Selasa (18/3/2025).
Baca Juga: Dasco Luruskan Soal Isu Sri Mulyani Mundur di Tengah Anjloknya IHSG
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap IHSG juga dipicu oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kembali direvisi oleh OECD.
Dimana lembaga tersebut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 dan 2026 masing-masing menjadi 4,9% dan 5,0% dari sebelumnya 5,2% dan 5,1%.
Faktor lainnya adalah koreksi harga komoditas, terutama batu bara yang turun hingga 2% ke bawah level USD100/ton. Hal ini turut menyeret saham-saham emiten sektor energi ke zona merah.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang masih dinilai memberikan ketidakpastian oleh investor turut memperburuk sentimen pasar.
Di sisi lain, lanjut Josua, Bank Indonesia dan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat kebijakan moneter bulan ini.
Keputusan ini didasarkan pada ketidakpastian global yang masih tinggi, termasuk kebijakan tarif impor yang diterapkan pemerintah AS.
Baca Juga: Misbakhun Puji Dasco: Pak Dasco Datang, IHSG Langsung Hijau
Meski sentimen negatif menghantui pasar, Josua Pardede menilai stabilitas fiskal Indonesia masih terjaga.
"Meskipun realisasi APBN Februari 2025 menunjukkan sedikit pelemahan, lembaga pemeringkat seperti Fitch masih mempertahankan outlook stabil bagi Indonesia," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan









