Ringgit Tertekan, Akankah Malaysia Turunkan Suku Bunga Kembali?

AKURAT.CO Ringgit Malaysia saat ini tengah menghadapi tantangan berat di pasar valuta asing. Meski sempat menjadi salah satu mata uang paling tangguh di Asia tahun lalu, tekanan eksternal kini mulai membayangi.
Dimana salah satu faktor kunci yang bisa menentukan arah ringgit ke depan adalah kebijakan suku bunga Bank Negara Malaysia (BNM).
Saat ini, para trader semakin yakin bahwa BNM akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam 12 bulan ke depan.
Ekspektasi ini meningkat drastis dibandingkan awal bulan, di mana peluang pemangkasan suku bunga hanya sekitar dua pertiga.
Baca Juga: Trump Perketat Tarif Impor, Perang Dagang dengan Eropa Semakin Memanas
Keputusan ini tak lepas dari perlambatan ekonomi global, terutama akibat ketegangan dagang antara AS dan China.
Sebagai negara dengan hubungan dagang erat dengan kedua raksasa ekonomi tersebut, Malaysia harus siap menghadapi dampaknya.
Mengutip dari laman Bloomberg, ahli strategies di Barclays Bank, Audrey Ong menjelaskan bahwasanya pertumbuhan PDB Malaysia yang baru-baru ini melambat membuat para pembuat kebijakan semakin waspada.
“Bank sentral mungkin tidak akan seagresif yang diperkirakan dalam mempertahankan suku bunga. Mereka harus mempertimbangkan dampak tarif AS terhadap ekonomi domestik,” ujar Ong.
Baca Juga: Imbas Perang Dagang Trump, Sri Mulyani: Tak Ada Lagi Konsep Teman
Namun, ada faktor lain yang bisa meredam tekanan terhadap ringgit, yakni kebijakan Federal Reserve AS. Jika The Fed semakin agresif dalam memangkas suku bunga karena kekhawatiran resesi, dolar AS bisa melemah, memberikan ruang bagi ringgit untuk kembali menguat.
"Dengan semua faktor tersebur, keputusan BNM dalam beberapa bulan ke depan akan sangat krusial. Apakah mereka akan mempertahankan suku bunga demi menjaga daya tarik ringgit, atau justru menurunkannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi?" paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










