Hiraukan Tarif Konyol Trump, China Siap Pasang Target Ambisi Pertumbuhan Ekonomi

AKURAT.CO China kembali menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% untuk tahun 2025, sebuah angka yang terdengar optimis di tengah ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat dan ancaman deflasi berkepanjangan.
Target ini bukan hal yang baru, sudah tiga tahun berturut-turut pemerintah China menargetkan pertumbuhan di kisaran tersebut. Namun, kali ini tantangannya lebih besar.
Mengutip dari laman bloomberg, Perdana Menteri China, Li Qiang dijadwalkan mengumumkan secara resmi target ini dalam pertemuan tahunan Kongres Rakyat Nasional (NPC).
Pasca info tersebut, para ekonom menilai agar target ini harus tercapai, oleh karena itu China harus mengeluarkan stimulus lebih besar, terutama di sektor konsumsi dan investasi infrastruktur.
Perang Dagang dan Krisis Properti Jadi Batu Sandungan
Seperti yang diketahui, keputusan Presiden AS Donald Trump untuk kembali menaikkan tarif 10% terhadap barang China menambah beban bagi ekonomi Negeri Tirai Bambu.
Bahkan tahun lalu, ekspor menyumbang hampir sepertiga dari pertumbuhan ekonomi China, sehingga tarif baru ini berpotensi menghambat mesin ekspor yang selama ini menjadi andalan.
Baca Juga: Perang Dagang Kian Memanas! Ini Strategi China Hadapi Tekanan Tarif Tinggi AS
Selain tekanan dari luar, China juga menghadapi masalah internal berupa deflasi berkepanjangan dan krisis properti yang belum menemukan titik terang. Harga properti terus merosot, menyebabkan kepercayaan konsumen dan investasi melemah.
"Target pertumbuhan ini ambisius, tetapi bukan tidak mungkin. China harus mengambil langkah besar dalam meningkatkan permintaan domestik untuk menyeimbangkan dampak eksternal," ujar Kepala Ekonom untuk China Raya di Australia & New Zealand Banking Group, Raymond Yeung.
Stimulus Besar Jadi Kunci?
Untuk mencapai target tersebut, para ekonom memperkirakan pemerintah akan menggenjot stimulus fiskal. China menetapkan target defisit fiskal sebesar 4% dari PDB angka tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.
Tentunya hal ini menunjukkan bahwa pemerintah siap menggelontorkan dana besar untuk menopang perekonomian.
Stimulus yang diusulkan mencakup peningkatan belanja publik dan insentif bagi sektor teknologi serta manufaktur. Beberapa analis juga menyarankan adanya kebijakan yang mendorong konsumsi rumah tangga, karena daya beli masyarakat masih lesu pasca-pandemi dan krisis properti.
Namun, pertanyaannya adalah apakah stimulus ini cukup efektif? Sebab sejumlah ekonom meragukan apakah dorongan fiskal ini bisa menghidupkan kembali sektor properti yang sedang lesu atau mengompensasi dampak dari perang dagang dengan AS.
Bagi China, pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi juga stabilitas sosial. Setiap kenaikan 1% dalam PDB diperkirakan menciptakan sekitar 2,5 juta lapangan kerja baru.
Baca Juga: Hadapi Tarif Tambahan 10 Persen dari AS, China Siapkan Strategi Balasan
Dengan lebih dari 12 juta lulusan universitas yang akan memasuki pasar kerja tahun ini, menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di angka 5% menjadi prioritas utama pemerintah.
Presiden Xi Jinping telah berjanji untuk membawa China menjadi negara berkembang menengah pada 2035, yang artinya ekonomi harus tumbuh dua kali lipat dari level 2020. Jika pertumbuhan melambat, maka target jangka panjang ini bisa terancam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










