Akurat

IHSG Pulih, Akankah Rebound Berlanjut atau Hanya Sekadar Dead Cat Bounce?

Hefriday | 6 Maret 2025, 07:20 WIB
IHSG Pulih, Akankah Rebound Berlanjut atau Hanya Sekadar Dead Cat Bounce?

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tanda-tanda pemulihan pasca sempat terperosok hingga 21% sejak puncaknya pada September 2024. Namun, pertanyaan besar yang muncul di kalangan investor adalah apakah pemulihan ini akan berlanjut atau hanya bersifat sementara fenomena yang dikenal sebagai dead cat bounce.

Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, Edi Chandren, menilai bahwa jika pasar tidak berada dalam kondisi krisis, maka pelemahan IHSG saat ini kemungkinan sudah mendekati akhir. Sejarah menunjukkan bahwa setelah mengalami koreksi signifikan, IHSG cenderung mengalami rebound yang cukup kuat.

Dikutip dari InvestorID, Kamis (6/3/2025), Edi mengatakan, dalam 20 tahun terakhir, ada delapan kali penurunan tajam IHSG dengan skala lebih dari 15%.

"Hal itu karena dua kejadian yang disebabkan oleh krisis besar, yaitu pandemi Covid-19 yang membuat IHSG anjlok 38,4% dan krisis finansial global dengan koreksi hingga 61,6%. Sementara enam kejadian lainnya mencatat penurunan rata-rata 21,4%, angka yang sejalan dengan kondisi saat ini," ujarnya.

Baca Juga: Saham EXCL Bakal Cerah Usai Merger

Dalam sebagian besar kejadian tersebut, IHSG selalu berhasil kembali ke level sebelum penurunan, meskipun durasi pemulihannya lebih panjang dibandingkan masa koreksinya. Bahkan, dalam lima kejadian, IHSG tidak hanya pulih, tetapi juga melampaui level sebelum koreksi. Hal ini menjadi sinyal bahwa pemulihan kali ini berpotensi lebih dari sekadar dead cat bounce.

Faktor lain yang menarik adalah pengalaman IHSG saat perang dagang AS-China jilid I pada 2018. Saat itu, IHSG sempat mengalami koreksi akibat ketidakpastian global, tetapi kemudian berhasil rebound dalam beberapa bulan setelahnya. Dengan kondisi yang mirip saat ini, ada potensi bahwa IHSG bisa kembali menguat jika sentimen global membaik.

Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun jumlahnya relatif kecil.

Pada perdagangan Rabu (5/3/2025), net sell asing tercatat sebesar Rp77,9 miliar, menambah total net sell sepanjang tahun ini menjadi Rp21,5 triliun. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi yang paling banyak dijual asing dengan net sell mencapai Rp421,6 miliar.

Baca Juga: IHSG Anjlok 7,83 Persen dalam Sepekan, Investor Asing Lepas Rp10,2 Triliun

Namun, di tengah aksi jual tersebut, terdapat optimisme di pasar dengan investor asing masih melakukan aksi beli pada beberapa saham unggulan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan net buy sebesar Rp147,5 miliar, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net buy sebesar Rp119,7 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada aksi jual di beberapa sektor, investor asing tetap melihat peluang di saham-saham tertentu.

Pada perdagangan Rabu (5/3/2025), IHSG melonjak 150,9 poin atau 2,37% ke level 6.531,3. Sebanyak 424 saham mengalami kenaikan, 182 saham melemah, dan 191 saham stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp12,89 triliun. Kenaikan IHSG kali ini didukung oleh penguatan di hampir semua sektor.

Sektor teknologi menjadi pendorong utama dengan kenaikan 5,7%, disusul sektor industri yang naik 3,1%. Sektor barang baku, keuangan, dan properti juga mengalami kenaikan masing-masing sebesar 2,2%, 1,7%, dan 1,1%. Hanya sektor kesehatan yang mengalami pelemahan tipis sebesar 0,09%.

Dengan fundamental pasar yang masih kuat dan peluang pemulihan yang terbuka, investor perlu mencermati arah pergerakan pasar ke depan.

Jika tekanan global mereda dan sentimen positif semakin kuat, IHSG berpotensi kembali menguat secara berkelanjutan.

Namun, jika volatilitas masih tinggi dan tekanan eksternal terus membayangi, potensi dead cat bounce tetap harus diwaspadai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa