Akurat

Kepala Bappenas Sebut Kebijakan Inovatif, Adaptif dan Berbasis Data Kunci Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Hefriday | 17 Februari 2025, 18:03 WIB
Kepala Bappenas Sebut Kebijakan Inovatif, Adaptif dan Berbasis Data Kunci Raih Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia membidik pertumbuhan ekonomi 8 persen. Namun ini bukan hal yang mudah, diperlukan langkah-langkah kebijakan yang lebih inovatif, adaptif, dan berbasis data.

Demikian disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy.

Menurutnya, di antara tantangan yang akan dihadapi Indonesia adalah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi, lonjakan inflasi, gangguan rantai pasokan, serta kebijakan ekonomi dari negara-negara besar seperti AS yang menambah kerumitan bagi perekonomian Indonesia.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebijakan yang didasarkan pada data yang akurat serta responsif terhadap perubahan yang ada.

Ditambahkan, mengadopsi kebijakan berbasis data bukan hanya sebuah pilihan, melainkan kebutuhan untuk memastikan perekonomian Indonesia terus tumbuh meskipun menghadapi tantangan global. 

Baca Juga: Bappenas Kena Efisiensi Anggaran Rp1 Triliunan

"Tantangan ini membuat kita semakin penting untuk mengadopsi kebijakan yang inovatif, adaptif, dan berbasis data untuk mempertahankan momentum pertumbuhan Indonesia," ujar Rachmat di sela kuliah umum bertajuk Moving Towards 8% Growth for Indonesia di Jakarta, Senin (17/2/2025).

Sebagai bagian dari upaya untuk menemukan solusi, Bappenas mengundang Profesor Ricardo Hausmann, seorang pakar pembangunan ekonomi dan mantan Menteri Perencanaan Venezuela.
 
Dalam kesempatan ini, Hausmann berbagi perspektif tentang bagaimana negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi mereka di tengah situasi global yang tidak menentu.

Pada 2017, Ricardo Hausmann pernah mengunjungi Indonesia untuk memberikan kuliah umum mengenai pendekatan baru dalam strategi pembangunan nasional.
 
Dalam kuliah tersebut, ia mengidentifikasi sejumlah kendala yang paling mengikat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan fokus utama pada regulasi dan kelembagaan yang sering menjadi hambatan bagi perkembangan sektor-sektor ekonomi kunci.
 
Temuan ini menjadi bahan penting dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Berangkat dari temuan tersebut, Indonesia menyusun strategi pembangunan yang lebih fokus pada pengurangan hambatan regulasi dan peningkatan efisiensi kelembagaan.
 
Menghadapi RPJMN 2025-2029, Indonesia juga mematok target ambisius, yakni mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan sebesar 8%, yang diharapkan dapat membantu mengentaskan kemiskinan, memperbaiki kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Salah satu langkah konkret yang akan ditempuh adalah melalui kerangka strategi 8 plus 1, yang berfokus pada delapan bidang utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
 
Rachmat menjelaskan bahwa strategi ini meliputi peningkatan produktivitas pertanian menuju swasembada pangan, industrialisasi sektor padat karya, pengembangan ekonomi biru dan hijau, serta pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, pentingnya pengembangan perkotaan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, serta investasi yang berorientasi ekspor dan investasi non-APBN juga menjadi bagian integral dari strategi ini.
 
Program-program besar seperti pembangunan 3 juta rumah, pembangunan lumbung pangan nasional, sekolah unggul, serta hilirisasi industri juga direncanakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Tidak hanya sektor ekonomi yang diprioritaskan, Rachmat juga menekankan pentingnya kebijakan pendukung, seperti deregulasi perizinan yang dapat memperlancar proses bisnis dan investasi.
 
Kebijakan fiskal yang berkesinambungan, didukung oleh Kementerian Keuangan, serta kebijakan moneter yang pro-growth menjadi pilar penting untuk memastikan stabilitas makroekonomi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Dalam makalah yang dibawakan Profesor Hausmann, ia menyebutkan bahwa setiap negara memiliki peluang unik untuk mengembangkan keunggulan komparatifnya.
 
Sebagai contoh, Turki yang dulu terkenal dengan ekspor minyak zaitun kini berkembang menjadi negara yang mengekspor produk-produk seperti mobil dan elektronik, menunjukkan pentingnya diversifikasi dan pengembangan sektor-sektor baru yang bisa bersaing secara global.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa