Menelaah Trumpnomics: Kontroversi di Balik Kebijakan Tarif Tinggi AS

AKURAT.CO Donald Trump resmi kembali ke Gedung Putih setelah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) untuk kedua kalinya pada 20 Januari 2025.
Kepemimpinan keduanya langsung diwarnai dengan kebijakan kontroversial, termasuk penerapan tarif tinggi terhadap negara-negara mitra dagang utama seperti Uni Eropa, China, Meksiko, dan Kanada.
Dalam pidato perdananya, Trump mengumumkan tarif sebesar 25 perse terhadap barang impor dari Meksiko dan Kanada, serta 10 persen untuk semua barang yang masuk dari China mulai 1 Februari 2025.
Ia juga mendesak Uni Eropa (UE) untuk membeli lebih banyak minyak dan gas dari AS, dengan ancaman tarif tambahan jika permintaan tersebut tidak dipenuhi.
Misi 'America First' dan Kebijakan Tarif Tinggi
Trump kembali menggaungkan slogan "America First" yang telah menjadi ciri khasnya sejak kampanye 2016.
Ia berkomitmen untuk melindungi kepentingan AS, khususnya dalam perdagangan dan ekonomi.
Menurut Trump, kebijakan tarif tinggi adalah kelanjutan dari langkah-langkah yang ia terapkan selama masa jabatan pertamanya pada 2017–2021.
Baca Juga: Kemnaker dan Kemenhub Kolaborasi Sukseskan Mudik Lebaran 2025
Trump menilai, negara-negara mitra dagang seperti Uni Eropa telah merugikan ekonomi AS melalui kebijakan yang dianggap tidak adil.
Ia menuding Uni Eropa "memanfaatkan" AS dengan regulasi yang merugikan perusahaan teknologi Amerika.
“Kalau Anda tidak memproduksi barang di Amerika, itu hak Anda. Tapi Anda harus membayar tarif,” tegas Trump dalam pidato virtualnya di World Economic Forum.
Trump mengklaim bahwa pendapatan dari tarif ini akan mendatangkan keuntungan besar bagi kas negara, yang dapat digunakan untuk mendanai proyek nasional dan menciptakan lapangan kerja baru.
Tekanan terhadap Uni Eropa: Fokus pada Minyak dan Gas
Salah satu kebijakan utama Trump adalah mendesak Uni Eropa untuk meningkatkan pembelian minyak dan gas dari AS. Trump menyebut langkah ini sebagai solusi cepat untuk menghindari tarif tambahan.
“Satu hal yang dapat Uni Eropa lakukan dengan cepat adalah membeli minyak dan gas kami,” ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih, seperti dikutip dari Bloomberg.
Namun, langkah ini memicu kritik. Beberapa pihak menilai Trump menggunakan isu energi untuk memperkuat ketergantungan Uni Eropa pada pasokan dari Amerika, yang dianggap sebagai bentuk tekanan ekonomi.
Sementara itu, para analis memperingatkan bahwa kebijakan ini berisiko menciptakan ketegangan baru di pasar energi global.
Uni Eropa, yang tengah berupaya diversifikasi sumber energinya, kemungkinan besar tidak akan menerima tekanan ini begitu saja.
Baca Juga: DPRD DKI Harap Program Sekolah Swasta Gratis di Jakarta Bisa Dilakukan Tahun Ini
Dampak pada Mitra Dagang Utama
Pengenaan tarif tinggi juga memengaruhi negara-negara mitra dagang utama seperti China, Meksiko, dan Kanada.
Bagi China, kebijakan ini membuka babak baru dalam perang dagang yang memanas sejak masa jabatan pertama Trump.
Pada periode sebelumnya, tarif tinggi terhadap barang-barang China berdampak pada rantai pasok global, memaksa banyak perusahaan AS menaikkan harga produknya.
Sementara itu, tarif 25 persen terhadap barang impor dari Meksiko dan Kanada menjadi ancaman serius bagi kedua negara, yang merupakan mitra dagang utama AS dalam Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA).
Kebijakan ini dinilai dapat merusak kesepakatan perdagangan dan memicu ketidakstabilan ekonomi di kawasan Amerika Utara.
Kontroversi dan Tantangan Global
Meskipun bertujuan melindungi industri domestik AS, kebijakan tarif tinggi Trump menuai banyak kritik karena dianggap kontraproduktif.
1. Dampak pada Konsumen
Tarif tinggi dapat meningkatkan harga barang impor di pasar domestik, yang akhirnya membebani konsumen Amerika.
2. Retaliasi dari Negara Lain
Negara-negara yang terkena dampak kemungkinan akan membalas dengan menerapkan tarif serupa pada produk AS, memperburuk ketegangan perdagangan global.
3. Kerusakan Hubungan Diplomatik
Pendekatan Trump yang agresif dalam negosiasi perdagangan dinilai dapat merusak hubungan bilateral dengan mitra dagang utama, seperti Uni Eropa dan China.
Baca Juga: Bahlil: Hilirisasi Kunci Ketahanan Ekonomi, Indonesia dan India Siap Perkuat Kerja Sama Strategis
Kebijakan tarif tinggi Trump mencerminkan ambisinya untuk memprioritaskan kepentingan AS melalui pendekatan proteksionis.
Namun, langkah ini menghadapi tantangan besar, termasuk resistensi dari negara-negara mitra dagang dan potensi retaliasi yang dapat memicu ketegangan global.
Di sisi lain, dukungan penuh dari Kongres menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini.
Dengan fraksi politik yang beragam, Trump harus meyakinkan para pembuat kebijakan untuk mendukung langkah-langkah yang dianggap penting bagi masa depan ekonomi Amerika.
Apakah kebijakan ini akan membawa Amerika pada keuntungan besar atau justru memicu ketidakstabilan global? Hanya waktu yang akan menjawab.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










