Dolar AS Melemah di Tengah Spekulasi Kebijakan Trump
Hefriday | 7 Januari 2025, 16:04 WIB

AKURAT.CO Dolar AS berada di posisi terendah dalam sepekan terakhir terhadap mata uang utama dunia pada Selasa (7/1/2025), ketika para pelaku pasar mencoba menilai apakah kebijakan tarif yang dijanjikan Presiden Terpilih Donald Trump akan seketat yang sebelumnya diumumkan.
Spekulasi ini muncul setelah laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa tim Trump sedang mempertimbangkan tarif yang hanya diterapkan pada sektor-sektor yang dianggap penting bagi keamanan nasional atau ekonomi AS.
Namun, pada Senin (6/1/2025), dolar berhasil menguat kembali setelah Trump membantah laporan tersebut melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social.
Indeks dolar AS, yang mengukur performa mata uang ini terhadap enam rival utama termasuk euro dan pound sterling, naik tipis menjadi 108,38 setelah sebelumnya sempat menyentuh 107,74, level terendah sejak 30 Desember.
Penguatan dolar sebelumnya didorong oleh ekspektasi bahwa janji Trump tentang stimulus fiskal, deregulasi, dan tarif yang lebih tinggi akan memacu pertumbuhan ekonomi AS. Pada 2 Januari, indeks dolar sempat mencapai 109,58, tertinggi sejak November 2022. Namun, laporan Washington Post memicu keraguan di kalangan investor tentang seberapa agresif tarif Trump akan diterapkan.
"Tarif universal sebesar 10-20 persen yang dijanjikan Trump memang sejak awal dianggap sulit direalisasikan secara ketat. Laporan Washington Post hanya memperkuat pandangan ini, meskipun Trump mencoba meredamnya." kata Kepala Riset di Pepperstone, Chris Weston, dikutip dari Reuters, Selasa (7/1/2025).
Euro, yang selama ini menjadi target utama ancaman tarif Trump, turun tipis menjadi USD1,03795 setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan di USD1,0437 pada Senin. Sementara itu, pound sterling juga melemah ke USD1,125085 setelah sebelumnya melonjak ke USD1,2550 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS mencatatkan penguatan sebesar 0,3% terhadap yen Jepang, mencapai 158,23 yen, level tertinggi sejak 17 Juli. Penguatan ini didukung oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Terhadap dolar Kanada, dolar AS naik tipis menjadi CAD1,4345 setelah sempat melemah ke CAD1,42805 pada Senin.
Penurunan dolar Kanada terjadi setelah Perdana Menteri Justin Trudeau mengumumkan rencana untuk mundur dari posisinya dalam beberapa bulan mendatang. "Pasar percaya bahwa ekonomi Kanada akan lebih baik tanpa Trudeau," ujar analis pasar senior di Capital.com, Kyle Rodda.
Para pelaku pasar kini mencoba membaca arah kebijakan Trump, yang tampaknya lebih fokus menggunakan ancaman tarif sebagai alat negosiasi daripada benar-benar memberlakukannya secara universal. "Hal terakhir yang Trump inginkan saat ini adalah kehilangan daya tawarnya menjelang negosiasi penting," tambah Weston.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










