Ada Lonjakan Inflasi, ECB Ditaksir Bakal Tunda Pemangkasan Suku Bunga

AKURAT.CO Pemangkasan suku bunga berikutnya oleh Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan akan memakan waktu lebih lama setelah terjadinya lonjakan inflasi baru-baru ini, menurut anggota Dewan Pemerintahan ECB, Robert Holzmann. Holzmann, yang juga merupakan kepala bank sentral Austria, mengungkapkan pandangannya dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Austria, Kurier, pada Sabtu lalu.
Dikutip dari Reuters, Senin (30/12/2024), menurut Holzmann, saat ini tidak ada rencana untuk menaikkan suku bunga, tetapi pemangkasan suku bunga berikutnya mungkin akan ditunda lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya. "Saya tidak melihat adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, apa yang bisa terjadi adalah pemangkasan suku bunga berikutnya akan memakan waktu lebih lama," ungkap Holzmann.
Salah satu faktor yang menyebabkan perubahan pandangan ini adalah inflasi zona euro yang kembali meningkat. Inflasi tahunan di zona euro tercatat mencapai 2,2% pada bulan November, meningkat dibandingkan dengan 2,0% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini juga melebihi target inflasi ECB yang sebesar 2%, yang selama ini dijadikan acuan utama dalam kebijakan moneter ECB.
Baca Juga: ECB Ditaksir Pangkas Lagi Suku Bunga di Awal 2025
Holzmann mengakui adanya tanda-tanda tren kenaikan harga energi yang dapat berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi. "Ya, ada tanda-tanda adanya kecenderungan kenaikan harga energi. Namun, ada juga skenario lain mengenai bagaimana inflasi bisa kembali meningkat, seperti melalui depresiasi euro yang lebih kuat," ujar Holzmann. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal, seperti perubahan nilai tukar mata uang, juga bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi Eropa.
Di sisi lain, Holzmann yang dikenal memiliki pandangan hawkish dalam hal inflasi, juga memberikan pendapatnya mengenai potensi dampak kebijakan tarif perdagangan yang mungkin akan diterapkan oleh Presiden AS yang baru terpilih, Donald Trump. Menurutnya, kebijakan tarif tersebut berpotensi menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, namun di sisi lain, hal itu juga bisa menciptakan tekanan inflasi, terutama di Amerika Serikat.
"Senario yang mungkin terjadi adalah tarif Trump akan menyebabkan pelambatan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan tekanan inflasi. Ini lebih terasa di Amerika Serikat daripada di Eropa," kata Holzmann. Oleh karena itu, dampak dari kebijakan tarif ini bisa lebih terasa di pasar AS, meskipun beberapa dampaknya juga akan merembet ke Eropa, terutama jika ada perubahan besar dalam nilai tukar mata uang.
Holzmann menambahkan bahwa seberapa besar dampak kebijakan tarif Trump ini sangat bergantung pada bagaimana nilai dolar AS bergerak. Jika dolar menguat, maka hal ini bisa memperburuk inflasi di Eropa, mengingat nilai tukar euro yang lebih rendah dapat meningkatkan harga barang impor. Di sisi lain, jika euro yang lebih lemah dapat mendorong ekspor Eropa, namun tetap saja ada risiko inflasi yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, ECB harus berhati-hati dalam merespon situasi ekonomi yang terus berubah. Kenaikan inflasi, meskipun kecil, memberikan tantangan tersendiri dalam menetapkan kebijakan moneter. Di satu sisi, ECB harus menjaga inflasi agar tetap sesuai dengan target 2%, namun di sisi lain, kebijakan pemangkasan suku bunga yang terlalu cepat bisa memperburuk kondisi inflasi dan menciptakan ketidakstabilan ekonomi.
Sementara itu, pasar Eropa tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan kebijakan moneter di masa mendatang. Beberapa analis memprediksi bahwa ECB mungkin akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya. Keputusan ini akan sangat bergantung pada bagaimana situasi inflasi dan ekonomi global berkembang dalam beberapa bulan mendatang.
Mengingat ketidakpastian yang ada, ECB tampaknya akan tetap mengawasi perkembangan inflasi dengan cermat, sembari menunggu tanda-tanda yang lebih jelas mengenai arah perekonomian global. Para pengamat ekonomi juga menyarankan agar ECB tetap fleksibel dan siap untuk menyesuaikan kebijakan sesuai dengan kondisi yang berkembang.
Dalam situasi yang serba tidak pasti ini, peran ECB sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Eropa. Langkah-langkah kebijakan yang hati-hati dan terukur akan menjadi kunci dalam menghindari lonjakan inflasi yang tidak terkendali, sembari mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan euro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










