Akurat

Stimulus Baru Jadi Andalan China Hadapi Tantangan Ekonomi di 2025

Demi Ermansyah | 12 Desember 2024, 23:06 WIB
Stimulus Baru Jadi Andalan China Hadapi Tantangan Ekonomi di 2025

AKURAT.CO China bersiap mengarungi tantangan ekonomi global yang semakin berat dengan langkah-langkah strategis melalui Konferensi Kerja Ekonomi Pusat (CEWC). Pertemuan yang berlangsung selama dua hari tersebut (11-12 Desember 2024) menjadi momen krusial bagi pemerintah untuk mempersiapkan kebijakan ekonomi tahun 2025.

Ancaman tarif tinggi dari Amerika Serikat serta ketegangan perdagangan global mendorong Beijing untuk mempertimbangkan stimulus ekonomi yang lebih besar. Dengan fokus pada permintaan domestik dan pasar properti, pemerintah berupaya menyeimbangkan tekanan eksternal dan mempertahankan stabilitas ekonomi dalam negeri.

Salah satu perubahan besar yang diantisipasi adalah pergeseran kebijakan ke arah yang lebih berorientasi pada konsumen. Hingga saat ini, sebagian besar stimulus difokuskan pada sektor manufaktur dan infrastruktur, termasuk kendaraan listrik, energi surya, dan baterai. Namun, dengan semakin kuatnya tekanan ekonomi eksternal, para analis memperkirakan Beijing akan memberikan perhatian lebih besar pada konsumsi rumah tangga dan pasar properti.

Baca Juga: Perang Dagang, Investor Nantikan Kebijakan Baru China di 2025

Menurut  Ekonom Citigroup, Xiangrong Yu langkah awal yang diambil pemerintah kemungkinan akan moderat, dengan potensi ekspansi kebijakan yang lebih besar pada pertengahan 2025. “Mereka akan bereaksi terhadap tren pertumbuhan. Jika pertumbuhan melambat terlalu tajam, stimulus tambahan akan dikeluarkan,” jelas Yu.

Salah satu aspek yang menarik perhatian adalah kemungkinan peningkatan target defisit anggaran hingga 4% dari PDB. Langkah ini dinilai strategis untuk membuka ruang fiskal bagi pemerintah pusat guna mendukung berbagai proyek ekonomi. Dengan kebijakan fiskal yang "lebih proaktif," pemerintah diharapkan dapat menciptakan stimulus yang berdampak langsung pada pasar domestik.

Namun, tantangan tetap ada. Dengan tekanan tarif yang tinggi dari AS, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5% untuk 2025 mungkin sulit dicapai tanpa dukungan kebijakan yang lebih agresif. Para ekonom menyebut, tanpa perbaikan signifikan di sektor konsumsi, target ini hanya akan menjadi angka di atas kertas.
 
Selain kebijakan domestik, China juga mencoba memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat untuk mengurangi ketegangan dagang. Dalam pernyataannya, Presiden Xi Jinping berharap Washington dapat bekerja sama untuk menjaga hubungan bilateral yang stabil.  “Perang tarif dan dagang hanya akan merugikan kedua pihak. Kita perlu menemukan cara untuk bekerja sama,” ujar Xi.

Sikap ini menunjukkan bahwa China tidak hanya fokus pada kebijakan dalam negeri tetapi juga mencari solusi diplomatik untuk mengelola ketegangan global. Meski demikian, upaya ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dengan kebijakan perdagangan yang semakin agresif dari AS.

Konferensi Kerja Ekonomi Pusat memberikan gambaran awal tentang arah kebijakan ekonomi China di tahun mendatang. Dengan tekanan eksternal yang terus meningkat, pemerintah perlu mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dan inovatif untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Stimulus baru, fokus pada konsumsi, dan strategi fiskal yang lebih agresif menjadi andalan China dalam menghadapi tahun yang penuh tantangan. Investor global kini menantikan hasil nyata dari kebijakan ini, yang tidak hanya berdampak pada ekonomi domestik tetapi juga pada dinamika ekonomi dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.