Diancam Trump Usai Dedolarisasi, Bos Bank Sentral India: Cuma Diversifikasi
Demi Ermansyah | 11 Desember 2024, 16:19 WIB

AKURAT.CO Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump beberapa waktu lalu kembali mengeluarkan berbagai wacana yang membuat negara-negara lain harus berpikir dua kali dalam membuat kebijakan. Dimana Trump menegaskan bahwa bagi negara-negara yang mengejar Dedolarisasi akan dikenakan tarif fantastis sebesar 100%.
Usut punya usut, wacana dedolarisasi ini menjadi trending pasca organisasi kerja sama BRICS yang terdiri dari Brazil, Russia, China, India dan Afrika Selatan merumuskan untuk tidak lagi menggunakan mata uang Dollar AS sebagai mata uang global.
Merespon ancaman baru Trump tersebut, Gubernur Reserve Bank of India (RBI), Shaktikanta Das menegaskan bahwa kebijakan dedolarisasi tidak termasuk dalam tujuan negara tersebut. "Langkah yang diambil India lebih diarahkan pada diversifikasi mata uang perdagangan untuk mengurangi risiko yang timbul dari ketergantungan pada satu mata uang saja," paparnya dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/12/2024).
Sebab, lanjut Das, ketergantungan pada mata uang tunggal seperti dolar AS, dapat menjadi tantangan besar, terutama ketika nilai tukar mata uang tersebut mengalami fluktuasi signifikan. Oleh karena itu, dalam rangka mengatasi risiko ini, India telah menjalin perjanjian perdagangan dengan mata uang lokal bersama beberapa negara.
"Langkah ini adalah bentuk diversifikasi, bukan dedolarisasi langsung," jelas Das.
Meskipun salah satu anggota BRICS sempat mengusulkan pembentukan mata uang bersama, Das mengonfirmasi bahwa hingga kini belum ada kemajuan konkret mengenai inisiatif tersebut. Bahkan dirinya juga menyoroti perbedaan geografis antara negara-negara BRICS dibandingkan dengan zona euro, yang memiliki kedekatan geografis sebagai faktor pendukung keberhasilan mata uang bersama.
Meskipun salah satu anggota BRICS sempat mengusulkan pembentukan mata uang bersama, Das mengonfirmasi bahwa hingga kini belum ada kemajuan konkret mengenai inisiatif tersebut. Bahkan dirinya juga menyoroti perbedaan geografis antara negara-negara BRICS dibandingkan dengan zona euro, yang memiliki kedekatan geografis sebagai faktor pendukung keberhasilan mata uang bersama.
Hal tersebut tampaknya juga di-aminkan oleh Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar. Dimana dirinya menyampaikan bahwa anggota BRICS tidak berniat melemahkan posisi dolar AS melainkan lebih kepada diversifikasinya saja.
Sebagai informasi, pernyataan tersebut muncul pasca Presiden AS terpilih, Donald Trump, mengeluarkan tuntutan agar BRICS tidak mendukung penciptaan mata uang baru yang dapat menggantikan dolar AS. Dengan konsekuensi utama yakni pengenaan tarif fantastis hingga 100% menjadi bagi negara-negara yang melanggar tuntutan tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










