Akurat

Hore, Aktivitas Manufaktur China Terus Bergeliat

Yosi Winosa | 3 Desember 2024, 14:47 WIB
Hore, Aktivitas Manufaktur China Terus Bergeliat

AKURAT.CO Aktivitas manufaktur di China mencatat kenaikan selama dua bulan berturut-turut, menurut hasil survei terbaru dari sektor swasta. Hal ini menjadi sinyal positif adanya stabilisasi lebih lanjut dalam perekonomian negara tersebut setelah pemerintah meluncurkan paket stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut lansiran Bloomberg, Selasa (3/12/2024),Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Caixin mencapai angka 51,5 pada bulan lalu, yang merupakan level tertinggi sejak Juni. Data ini dirilis oleh Caixin dan S&P Global pada Senin (2/12/2024). Sebelumnya, analis yang disurvei Bloomberg memperkirakan indeks akan naik menjadi 50,6 dari angka 50,3 pada Oktober. Angka di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi di sektor manufaktur.

Data ini mengindikasikan pemulihan yang mulai terlihat, meskipun belum merata, di tengah perekonomian China yang bernilai USD18 triliun. Di sisi lain, indikator resmi menunjukkan peningkatan tipis di sektor manufaktur pada November, sementara indeks di sektor konstruksi dan jasa justru turun ke level kontraksi.
 
Baca Juga: Tak Cuma China, Ekonomi Global Turut Dirugikan oleh Tarif Agresif Trump

Laporan PMI Caixin cenderung lebih kuat dibandingkan hasil survei resmi, sebagian besar karena fokus pada perusahaan kecil dan berorientasi ekspor. Ekspor menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi China, dengan pengiriman barang sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini mencapai nilai tertinggi kedua dalam sejarah. Hal ini membuka peluang bagi China untuk mencatat surplus perdagangan hampir USD1 triliun pada akhir tahun.
 
Menurut Kepala Ekonom Asia, Chang Shu menyebutkan bahwa ekspor yang kuat masih menjadi penopang utama PMI manufaktur Caixin. "Harga angkutan peti kemas ekspor yang tetap tinggi menjadi salah satu indikatornya. Meskipun begitu faktor musiman di bulan November bisa kembali mempengaruhi angka tersebut," ungkapnya.

Meski begitu, ketidakpastian tetap membayangi sektor manufaktur China. Ancaman tarif dari Presiden AS terpilih Donald Trump berpotensi mengganggu perdagangan bilateral antara China dan Amerika Serikat. Selain itu, hambatan perdagangan dari kawasan lain seperti Uni Eropa turut menjadi tantangan tambahan.

Untuk memperkuat ekonomi, China telah memangkas suku bunga secara signifikan dan mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan pasar properti. Langkah ini membuat beberapa analis meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China pada 2024, dengan perkiraan median mencapai 4,8%.

Namun, tantangan besar masih menghadang. Pada kuartal ketiga, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China berada pada laju paling lambat sejak awal 2023. Sektor properti yang terus terpuruk dan pasar tenaga kerja yang lesu membebani konsumsi domestik. Selain itu, tekanan deflasi, populasi yang menua, serta meningkatnya ketegangan perdagangan menjadi risiko jangka panjang yang harus dihadapi China.

Dengan berbagai faktor ini, pemulihan ekonomi China akan sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam menavigasi tantangan global dan domestik, sekaligus menjaga momentum di sektor ekspor yang menjadi penopang utama perekonomian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.