Akurat Logo

Tak Cuma China, Ekonomi Global Turut Dirugikan oleh Tarif Agresif Trump

Demi Ermansyah | 29 November 2024, 14:12 WIB
Tak Cuma China, Ekonomi Global Turut Dirugikan oleh Tarif Agresif Trump

AKURAT.CO Wacana presiden terpilih AS, Donald Trump, untuk memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% pada barang-barang impor dari China langsung memicu gelombang kritik, baik dari dalam negeri AS maupun dari pihak China.

Kritik paling tajam datang dari media pemerintah China, seperti China Daily dan Global Times, yang secara terbuka memperingatkan bahwa kebijakan ini berpotensi memperburuk hubungan ekonomi antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Dalam tajuk rencananya, media-media tersebut menegaskan bahwa ancaman Trump dapat memicu perang dagang babak baru, yang tak hanya akan merugikan China, tetapi juga merusak stabilitas ekonomi global.

Baca Juga: Tarif Agresif Trump Guncang Ekonomi Global

Kebijakan ini, menurut mereka (media-media China), tidak akan memberikan solusi nyata atas isu fentanyl yang disebut Trump sebagai narkoba jenis baru, menjadi alasan di balik langkahnya dan justru hanya menambah tekanan di berbagai sektor perekonomian, baik di AS maupun China.

Dalam pernyataannya beberapa hari lalu, Trump menyebut bahwa tarif tambahan ini akan tetap diberlakukan hingga Beijing mengambil langkah serius untuk menghentikan perdagangan bahan kimia prekursor yang digunakan dalam pembuatan fentanyl.

Namun, kebijakan ini dilihat oleh banyak pihak sebagai cara Trump untuk memperkuat posisinya secara politis, dengan memanfaatkan isu yang sangat sensitif di Amerika Serikat. Dari sisi dampak ekonomi, ancaman tarif ini telah memicu kekhawatiran di kalangan ekonom global.

Menurut Kepala Ekonom Asia di S&P Global Ratings, Louis Kuijs memprediksi bahwa tarif rata-rata pada impor barang dari China dapat melonjak hingga 25%. “Langkah ini tak hanya akan menekan pertumbuhan ekonomi China, tetapi juga akan mendorong inflasi dan meningkatkan biaya hidup bagi masyarakat Amerika Serikat," ungkapnya melalui lansiran reuters.

Sementara itu, dari perspektif China, langkah Trump dinilai sebagai tindakan yang tidak logis dan sulit diterima. Gao Lingyun, seorang analis dari Akademi Ilmu Sosial China, mengkritik keras kebijakan tersebut. Ia menilai bahwa mengaitkan isu antinarkoba dengan tarif perdagangan hanyalah upaya yang kurang berdasar untuk menekan China.

“Langkah seperti ini tidak dapat dipertahankan baik secara ekonomi maupun moral,” tambahnya.

Di sisi lain, China tampaknya cukup percaya diri menghadapi tekanan ini, mengingat pengalaman mereka selama perang dagang sebelumnya pada periode pertama Trump.

Namun, para analis tetap memperingatkan bahwa jika ancaman ini benar-benar direalisasikan, tekanan terhadap ekspor China dan pertumbuhan ekonominya akan semakin berat. S&P Global Ratings bahkan telah merevisi target pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2025 menjadi hanya 4,1%, jauh lebih rendah dari ekspektasi awal.

Kebijakan ini tidak hanya menjadi tantangan bagi China, tetapi juga bagi AS sendiri, yang sebelumnya telah merasakan dampak negatif dari perang dagang, termasuk melonjaknya harga barang konsumsi dan terganggunya rantai pasokan global.

"Jika situasi ini berlanjut, perang dagang yang baru berpotensi menciptakan tekanan besar pada stabilitas ekonomi dunia, membawa dua kekuatan ekonomi terbesar ini dalam konflik yang lebih dalam dan merugikan," tambah Lingyun. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.