Ekonomi Hijau Jadi Peluang di Tengah Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Yosi Winosa | 18 November 2024, 16:40 WIB

AKURAT.CO Indonesia kini berada di persimpangan jalan di mana upaya menuju pembangunan berkelanjutan semakin digalakkan melalui konsep ekonomi hijau. Pemerintah telah menempatkan transisi energi dan pengembangan ekonomi hijau sebagai prioritas nasional.
Berbagai program, seperti investasi dalam energi terbarukan, efisiensi energi, dan pelestarian lingkungan, terus didorong untuk menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim.
Menurut Direktur INDEF, Esther Sri Astuti, konsep ekonomi hijau merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam perekonomian global. Namun, masih ada berbagai hambatan struktural dan kebijakan yang perlu diselesaikan.
Menurut Direktur INDEF, Esther Sri Astuti, konsep ekonomi hijau merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam perekonomian global. Namun, masih ada berbagai hambatan struktural dan kebijakan yang perlu diselesaikan.
“Ekonomi hijau membuka pintu bagi Indonesia untuk meningkatkan daya saing internasional. Dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang melimpah dan menerapkan teknologi ramah lingkungan, kita bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Senin (18/11/2024).
Baca Juga: Airlangga Sebut RI Punya 2 Peluang Pengembangan Ekonomi Hijau
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi. Menurut data Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai lebih dari 400 gigawatt. Namun, pemanfaatannya masih di bawah 5% dari total potensi tersebut.
Esther menekankan bahwa investasi di sektor energi terbarukan perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Jika kita ingin mencapai target net zero emission pada 2060, kita harus mulai sekarang dengan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengembangan energi terbarukan. Selain itu, insentif untuk pelaku usaha di sektor ini juga perlu diperbanyak,” jelasnya.
Ekonomi hijau tidak hanya relevan bagi sektor energi, tetapi juga memberikan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Banyak UMKM yang mulai mengadopsi praktik bisnis berkelanjutan, seperti penggunaan bahan baku ramah lingkungan dan pengelolaan limbah.
“UMKM memiliki peran kunci dalam menggerakkan ekonomi hijau di tingkat lokal. Namun, mereka membutuhkan dukungan, baik dari segi pembiayaan maupun pelatihan teknologi ramah lingkungan. Pemerintah harus memastikan inklusivitas dalam transisi ke ekonomi hijau,” kata Esther.
Meskipun ekonomi hijau menawarkan banyak peluang, hambatan struktural masih menjadi tantangan utama. Salah satu hambatan terbesar adalah regulasi yang tumpang tindih serta minimnya insentif bagi investor di sektor ini. Selain itu, kurangnya infrastruktur penunjang seperti jaringan listrik hijau juga menghambat percepatan transisi.
“Regulasi yang tumpang tindih sering menjadi kendala bagi investor. Pemerintah perlu menyederhanakan proses perizinan dan memberikan kepastian hukum agar investor lebih percaya diri untuk berinvestasi di sektor hijau,” tegas Esther.
Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi. Menurut data Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai lebih dari 400 gigawatt. Namun, pemanfaatannya masih di bawah 5% dari total potensi tersebut.
Esther menekankan bahwa investasi di sektor energi terbarukan perlu dipercepat untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Jika kita ingin mencapai target net zero emission pada 2060, kita harus mulai sekarang dengan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pengembangan energi terbarukan. Selain itu, insentif untuk pelaku usaha di sektor ini juga perlu diperbanyak,” jelasnya.
Ekonomi hijau tidak hanya relevan bagi sektor energi, tetapi juga memberikan peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Banyak UMKM yang mulai mengadopsi praktik bisnis berkelanjutan, seperti penggunaan bahan baku ramah lingkungan dan pengelolaan limbah.
“UMKM memiliki peran kunci dalam menggerakkan ekonomi hijau di tingkat lokal. Namun, mereka membutuhkan dukungan, baik dari segi pembiayaan maupun pelatihan teknologi ramah lingkungan. Pemerintah harus memastikan inklusivitas dalam transisi ke ekonomi hijau,” kata Esther.
Meskipun ekonomi hijau menawarkan banyak peluang, hambatan struktural masih menjadi tantangan utama. Salah satu hambatan terbesar adalah regulasi yang tumpang tindih serta minimnya insentif bagi investor di sektor ini. Selain itu, kurangnya infrastruktur penunjang seperti jaringan listrik hijau juga menghambat percepatan transisi.
“Regulasi yang tumpang tindih sering menjadi kendala bagi investor. Pemerintah perlu menyederhanakan proses perizinan dan memberikan kepastian hukum agar investor lebih percaya diri untuk berinvestasi di sektor hijau,” tegas Esther.
Pendanaan menjadi salah satu tantangan utama dalam implementasi ekonomi hijau di Indonesia. Proyek-proyek energi terbarukan sering kali membutuhkan investasi awal yang besar, yang sulit dijangkau oleh banyak pelaku usaha.
Esther mengusulkan agar pemerintah memperkuat kemitraan dengan lembaga keuangan internasional untuk mendapatkan akses pendanaan hijau. “Kita perlu memperluas akses ke dana-dana hijau global, seperti Green Climate Fund. Selain itu, penerbitan green bonds dan sukuk hijau juga bisa menjadi alternatif untuk membiayai proyek berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain tantangan regulasi dan pendanaan, rendahnya kesadaran publik terhadap pentingnya ekonomi hijau juga menjadi hambatan. Banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dari transisi energi dan adopsi gaya hidup ramah lingkungan.
“Pemerintah dan swasta perlu berkolaborasi dalam meningkatkan literasi masyarakat tentang ekonomi hijau. Kampanye publik dan edukasi berbasis komunitas bisa menjadi cara efektif untuk mengubah pola pikir masyarakat,” tambah Esther.
Implementasi ekonomi hijau tidak hanya memberikan manfaat langsung dalam hal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjamin keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang. Dengan mengadopsi ekonomi hijau, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor-sektor inovatif seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan teknologi lingkungan.
“Ekonomi hijau adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil bagi anak cucu kita. Ini adalah tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak merusak lingkungan,” tutur Esther.
Pembangunan ekonomi hijau memerlukan komitmen semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat. Dukungan kebijakan yang kuat, akses pendanaan yang memadai, dan peningkatan kesadaran publik menjadi kunci keberhasilan transisi ini.
“Ekonomi hijau bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Jika kita ingin tetap relevan di tengah perubahan global, kita harus bergerak cepat untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek perekonomian kita,” tegas Esther.
Dengan potensi yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi contoh sukses dalam implementasi ekonomi hijau di tingkat global. Namun, keberhasilan ini akan sangat ditentukan oleh langkah konkret yang diambil dalam beberapa tahun ke depan.
Esther mengusulkan agar pemerintah memperkuat kemitraan dengan lembaga keuangan internasional untuk mendapatkan akses pendanaan hijau. “Kita perlu memperluas akses ke dana-dana hijau global, seperti Green Climate Fund. Selain itu, penerbitan green bonds dan sukuk hijau juga bisa menjadi alternatif untuk membiayai proyek berkelanjutan,” ungkapnya.
Selain tantangan regulasi dan pendanaan, rendahnya kesadaran publik terhadap pentingnya ekonomi hijau juga menjadi hambatan. Banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dari transisi energi dan adopsi gaya hidup ramah lingkungan.
“Pemerintah dan swasta perlu berkolaborasi dalam meningkatkan literasi masyarakat tentang ekonomi hijau. Kampanye publik dan edukasi berbasis komunitas bisa menjadi cara efektif untuk mengubah pola pikir masyarakat,” tambah Esther.
Implementasi ekonomi hijau tidak hanya memberikan manfaat langsung dalam hal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjamin keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang. Dengan mengadopsi ekonomi hijau, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja baru di sektor-sektor inovatif seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan teknologi lingkungan.
“Ekonomi hijau adalah investasi jangka panjang yang akan membuahkan hasil bagi anak cucu kita. Ini adalah tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak merusak lingkungan,” tutur Esther.
Pembangunan ekonomi hijau memerlukan komitmen semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, hingga masyarakat. Dukungan kebijakan yang kuat, akses pendanaan yang memadai, dan peningkatan kesadaran publik menjadi kunci keberhasilan transisi ini.
“Ekonomi hijau bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Jika kita ingin tetap relevan di tengah perubahan global, kita harus bergerak cepat untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek perekonomian kita,” tegas Esther.
Dengan potensi yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi contoh sukses dalam implementasi ekonomi hijau di tingkat global. Namun, keberhasilan ini akan sangat ditentukan oleh langkah konkret yang diambil dalam beberapa tahun ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










