Impian China Jadikan Yuan Saingan Dolar AS Terjegal Trump?

AKURAT.CO Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat seiring terpilihnya Donald Trump untuk masa jabatan kedua sebagai Presiden AS.
Di mana kebijakan proteksionis Trump, termasuk ancaman tarif baru hingga 60% terhadap barang-barang China, menjadi tantangan besar bagi ambisi Presiden Xi Jinping untuk memperkuat posisi yuan sebagai mata uang global.
Tekanan ini menjadi pukulan berat bagi upaya internasionalisasi yuan yang selama bertahun-tahun dipromosikan oleh China. Mata uang yang kuat dan stabil dianggap sebagai syarat utama untuk memperluas pengaruh ekonomi negara tersebut di pasar global.
Namun, perang dagang yang berkelanjutan telah melemahkan posisi yuan, sementara hasil obligasi pemerintah China yang rendah dibandingkan AS dan penurunan investasi asing semakin memperumit situasi.
Menurut lansiran Bloomberg, sejumlah analis seperti BNP Paribas dan UBS, memprediksi nilai tukar yuan akan terus melemah hingga ke kisaran CNY7,5–7,7 terhadap dolar AS pada tahun depan. Bahkan, Jefferies Financial Group memproyeksikan angka ini dapat menyentuh CNY8 per dolar AS pada 2025, level terendah sejak 2006.
Baca Juga: Begini Strategi PBoC di Tengah Krisis Yuan
Ironisnya, kebijakan Trump yang mendorong pelemahan dolar AS untuk meningkatkan daya saing ekspor Amerika dapat memberikan sedikit peluang bagi China. Namun, dampak tarif baru yang lebih agresif akan memaksa Bank Rakyat China (PBoC) mengambil langkah-langkah sulit, termasuk kemungkinan devaluasi mata uang untuk mempertahankan daya saing ekspor China.
Devaluasi yuan ini berisiko memperburuk hubungan bilateral dengan AS, yang sebelumnya telah melabeli China sebagai "manipulator mata uang." Dalam kondisi ini, PBoC berada di persimpangan jalan, melindungi stabilitas domestik atau menuruti tekanan global untuk mempertahankan daya saing ekonominya.
Ambisi besar Xi Jinping untuk menjadikan yuan sebagai mata uang yang diakui secara internasional kini menghadapi dilema serius. Sementara China berusaha menavigasi krisis ini, para ekonom menilai bahwa perang dagang yang semakin intensif hanya akan menambah ketidakpastian, baik bagi yuan maupun perekonomian China secara keseluruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 520 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 6Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya








