Akurat

Ada Stimulus, China Tetap Hadapi Jeratan Deflasi

Demi Ermansyah | 11 November 2024, 11:45 WIB
Ada Stimulus, China Tetap Hadapi Jeratan Deflasi

AKURAT.CO Harga konsumen di China masih tertekan pada Oktober, sementara harga ditingkat produsen juga tetap turun. Hal ini menandakan bahwa serangkaian stimulus terbaru dari pemerintah belum cukup untuk mengangkat ekonomi dari jeratan deflasi.

Mengacu kepada Data dari Biro Statistik Nasional menunjukkan, bahwa indeks harga konsumen (IHK) China hanya naik 0,3% dari tahun sebelumnya, sedikit lebih rendah dibandingkan kenaikan 0,4% di bulan sebelumnya.

Perkiraan rata-rata dari para ekonom yang disurvei Bloomberg menunjukkan bahwa angka ini diprediksi tetap stabil sejak September.

IHK inti yang mengesampingkan harga makanan dan bahan bakar tampaknya hanya naik 0,2%. Sementara itu, inflasi produsen mencatat penurunan selama 25 bulan berturut-turut dengan angka turun sebesar 2,9% secara tahunan, lebih rendah dari prediksi penurunan 2,5% oleh para ekonom.

Inflasi yang hampir nol ini semakin mempertegas bahwa permintaan domestik China masih lemah, meskipun Beijing telah menggelontorkan stimulus sejak akhir September, termasuk penurunan suku bunga, peningkatan likuiditas untuk pinjaman bank, serta dukungan bagi pasar saham dan properti.

Baca Juga: Dihadapkan pada Deflasi, Realisasi Stimulus Ekonomi China Kian Dekat

"Rentetan kebijakan sejak akhir September masih butuh waktu untuk benar-benar berpengaruh dalam meningkatkan permintaan domestik," ujar Bruce Pang, Kepala Ekonom untuk China Raya di Jones Lang LaSalle Inc.

Tingkat harga produsen yang negatif, tambahnya, menarik harga barang-barang konsumen, sementara permintaan dan kepercayaan konsumen yang rendah menekan harga jasa. Oleh karena itu, IHK kemungkinan tetap rendah hingga akhir tahun ini, yang membuka peluang adanya penurunan suku bunga lebih lanjut di awal tahun depan.

Sehari sebelum data ini dirilis, pemerintah meluncurkan paket fiskal sebesar USD1,4 triliun, yang difokuskan pada pelonggaran utang pemerintah daerah untuk memberi ruang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.

Namun, banyak ekonom dan investor berpendapat bahwa tanpa kebijakan fiskal yang lebih longgar yang mendorong permintaan, sulit bagi China untuk membalik keadaan deflasi. Pemerintah mungkin akan menghadapi tekanan lebih besar untuk memperkuat kebijakan guna meningkatkan konsumsi, apalagi dengan ancaman tarif tinggi dari Presiden terpilih AS Donald Trump yang bisa menghambat ekspor penyokong utama pertumbuhan China tahun ini.

Selama bertahun-tahun, China telah berusaha meningkatkan pengeluaran rumah tangga, namun penurunan harga properti dan pasar kerja yang melemah membuat kepercayaan konsumen menurun. Selain itu, penurunan harga produsen juga menekan laba perusahaan sehingga mereka enggan berinvestasi.

Penurunan harga yang berlarut-larut ini berisiko membuat konsumen menunda pembelian dengan harapan harga akan semakin murah.

"Pasar sangat menanti rincian stimulus fiskal yang potensial. Jumlahnya penting, tapi bagaimana komponennya juga sama krusialnya," ujar Zhiwei Zhang, Presiden dan Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management.

Stimulus yang diarahkan untuk konsumsi, tambahnya, hanya akan lebih efektif untuk meningkatkan permintaan domestik dan mencegah semakin parahnya masalah kapasitas berlebih.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.