Akurat

Inflasi Singapura Nanjak 2,8 Persen, Kebijakan Moneter Perlu Kian Ketat

Demi Ermansyah | 25 Oktober 2024, 20:07 WIB
Inflasi Singapura Nanjak 2,8 Persen, Kebijakan Moneter Perlu Kian Ketat

AKURAT.CO Pada bulan September 2024, inflasi inti di Singapura tetap menunjukkan angka yang signifikan, mencatat peningkatan sebesar 2,8% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Angka ini mencerminkan tekanan yang terus berlanjut pada harga, terutama yang dipicu oleh sektor kesehatan dan pendidikan. 
 
Kenaikan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada upaya untuk mengendalikan inflasi, kekuatan yang mendasari tekanan harga masih sangat kuat. Hal ini menyoroti perlunya kebijakan moneter yang tetap ketat guna memastikan stabilitas ekonomi.
 
Baca Juga: Geser Singapura, Hong Kong Jadi Negara Paling Merdeka Ekonomi

Melansir dari Bloomberg, data yang baru ini dirilis oleh pemerintah Singapura menunjukkan bahwa inflasi inti, yang mengecualikan biaya perumahan dan transportasi pribadi, melebihi estimasi median 2,7% yang diperkirakan. 
 
Angka ini menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan, mengingat inflasi inti telah bertahan di atas 2% sejak Desember 2021. Dalam konteks ini, tingkat inflasi inti yang rata-rata berada di bawah 2% dianggap sebagai indikator stabilitas harga dalam perekonomian. 
 
Meskipun Otoritas Moneter Singapura (MAS) tidak menetapkan target inflasi yang eksplisit, tingginya angka inflasi inti menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam mencapai stabilitas tersebut.

Sementara itu, inflasi umum juga mengalami kenaikan, meskipun pada laju yang lebih lambat, mencapai 2% pada bulan September. Ini merupakan angka terendah dalam 3,5 tahun terakhir dan lebih tinggi daripada estimasi median 1,9% yang diperkirakan dalam survei Bloomberg News. 
 
Dengan indikator bulanan yang tidak disesuaikan secara musiman mencapai 0,3%, data ini semakin memperkuat gambaran bahwa tekanan inflasi masih belum sepenuhnya mereda.

Dalam tinjauan terbaru, MAS memperkirakan bahwa inflasi umum dan inflasi inti akan turun menjadi kisaran 1,5%-2,5% pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada optimisme mengenai penurunan inflasi di masa depan, bank sentral kini melihat risiko harga lebih seimbang dibandingkan sebelumnya. 
 
Pernyataan ini diungkapkan setelah MAS mempertahankan kebijakan moneternya pada peninjauan keenam berturut-turut, yang mencerminkan pendekatan hati-hati dalam menghadapi dinamika inflasi yang kompleks.

Dengan semua faktor ini, para analis dan ekonom memperhatikan dengan cermat perkembangan inflasi di Singapura, yang dapat mempengaruhi keputusan kebijakan moneter di masa depan. 
 
Oleh karena itu diperlukan perhatian yang lebih besar terhadap sektor-sektor yang mendorong inflasi, seperti kesehatan dan pendidikan, untuk memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan dapat efektif dalam mengatasi tekanan harga yang ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.